
VULNERABILITY SCANNING & ASSESMENT
3.3 Dasar Teori
3.3.1 Pengertian Scanning
Scanning adalah proses identifikasi port dan layanan yang terbuka pada sistem target. Teknik ini bertujuan untuk menemukan kerentanan dan celah keamanan yang mungkin ada pada sistem yang diincar. Scanning dilakukan setelah proses Footprinting untuk memperoleh informasi lebih detail tentang sistem jaringan target, sehingga dapat dikembangkan rencana serangan yang lebih efektif.
Scanning dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Port Scanning, dilakukan untuk mengetahui service apa yang dijalankan oleh target berdasarkan well known ports.
2. Network Scanning, dilakukan untuk mengetahui aktifnya suatu host dan IP Address dari host tersebut.
3. Vulnerability Scanning, dilakukan untuk mengetahui sistem operasi, versi sistem operasi, maupun service pack yang digunakan.
3.3.2 Tujuan Scanning
1. Mengetahui port yang aktif pada port scanner
2. Mengetahui jalur network yang aktif menuju site tujuan
3. Mengetahui vulnerability scanning pada site yang terdeteksi
3.3.3 Jenis-Jenis Scanning
1. Basic Scan
Basic Scan dalam konteks pemindaian keamanan jaringan adalah jenis pemindaian yang dilakukan untuk mengidentifikasi port yang terbuka pada host atau perangkat dalam jaringan target. Basic Scan umumnya tidak mencoba mengidentifikasi sistem operasi atau layanan yang berjalan pada port-port tersebut, fokus utamanya adalah pada keterbukaan port. Basic Scan dapat digunakan sebagai langkah awal dalam pemindaian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konfigurasi dan keamanan host yang bersangkutan.
Berikut adalah beberapa karakteristik dari Basic Scan:
• Pemindaian Port
Basic Scan mencoba menghubungi host target pada berbagai port untuk
melihat apakah port-port tersebut terbuka atau tertutup. Port terbuka
menunjukkan bahwa ada potensi layanan atau aplikasi yang berjalan di port
tersebut.
• Hasil yang terbatas
Hasil dari Basic Scan mencoba menghubungi host target pada berbagai port
untuk melihat apakah port-port tersebut terbuka atau tertutup. Port terbuka
menunjukkan bahwa ada potensi layanan atau aplikasi yang berjalan di port
tersebut.
• Kecepatan Basic Scan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan pemindaian yang lebih mendalam seperti pemindaian OS (Operating System) atau
pemindaian layanan. Hal ini karena Basic Scan hanya mencoba
menghubungi port-port tanpa memeriksa respons lebih lanjut dari host.
• Kemungkinan lebih tidak terdeteksi
Karena Basic Scan tidak mencoba mengidentifikasi sistem operasi atau
layanan yang berjalan di balik port yang terbuka. Namun, ini juga berarti
bahwa Basic Scan mungkin lebih sulit untuk mendeteksi jika ada layanan
atau aplikasi yang berjalan di port tertentu yang tidak biasa atau tidak
standar.
2. Syn Scan
Syn Scan adalah teknik yang dapat digunakan oleh para hacker untuk menentukan status port komunikasi tanpa membuat koneksi penuh. Teknik ini terkadang digunakan untuk melakukan serangan Denial of Service (DoS). Syn Scan juga dikenal sebagai half open scanning.
Cara kerja dari Syn Scan mirip dengan port scan, pelaku ancaman mencoba mengatur koneksi Transmisi Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) dengan server di setiap port yang memungkinkan. Hal ini dilakukan dengan mengirimkan paket SYN (sinkronisasi), seolah-olah memulai jabat tangan tiga arah, ke setiap port di server. Jika server membalas dengan respons ACK (pengakuan) atau paket SYN/ACK (synchronization acknowledge) dari port tertentu, bnerarti port tersebut terbuka. Kemudian, klien yang bermusuhan mengirimkan paket RST (reset).
Akibatnya, server berasumsi bahwa telah terjadi kesalahan komunikasi dan klien belum membuat sambungan. Dalam skenario ini, asumsi tersebut salah. Pelabuhan terbuka tetap terbuka dan rentan terhadap eksploitasi. Jika server merespons dengan paket RST dari port tertentu, ini menunjukkan bahwa port tersebut ditutup dan tidak dapat dieksploitasi. Ketika seorang peretas terus
menerus mengirimkan paket SYN dalam jumlah besar ke server, ia dapat menghabiskan sumber daya server. Hasilnya adalah hanya sedikit atau tidak ada komunikasi dari klien yang sah yang dapat dilakukan.
Namun, Syn Scan memiliki beberapa keterbatasan dan potensi masalah, yaitu:
• Deteksi oleh IDS/IPS: Syn scan dapat terdeteksi oleh Intrusion Detection Systems (IDS) atau Intrusion Prevention Systems (IPS) karena memicu
proses koneksi yang tidak lengkap. Hal ini dapat menghasilkan tindakan
pencegahan yang menghentikan pemindaian.
• Kebijakan Keamanan: Beberapa host atau jaringan dapat mengimplementasikan kebijakan keamanan yang membatasi atau memblokir
permintaan SYN yang datang dari luar.
• False Positives: Syn Scan dapat menghasilkan hasil yang tidak akurat jika respons yang diterima tidak jelas, seperti ketika host target tidak merespons
atau merespons dengan cara yang tidak diharapkan.
3. TCP Scan
TCP Scan, juga dikenal sebagai TCP connect scan, adalah salah satu teknik pemindaian keamanan jaringan yang digunakan untuk mengidentifikasi port yang terbuka pada host target dalam jaringan. Teknik ini termasuk dalam kategori pemindaian port dan merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan dalam pemindaian keamanan.
Berikut adalah cara kerja TCP scan, yaitu:
• Pemindaian Koneksi: Dalam TCP scan, pemindai mencoba untuk membuat koneksi TCP lengkap ke host target pada setiap port yang ingin diperiksa. Ini dilakukan dengan mengirimkan permintaan TCP SYN (synchronize) ke port yang dituju.
• Respons Host: Jika port tersebut terbuka, host target akan merespons dengan sebuah paket TCP SYN-ACK (synchronize-acknowledgment), yang menandakan bahwa port tersebut dalam keadaan terbuka dan siap menerima koneksi. Jika port tersebut tertutup, host akan merespons dengan sebuah paket TCP RST (reset) sebagai tanda bahwa port tersebut tidak aktif.
• Penutupan Koneksi: Setelah mendapatkan respons SYN-ACK atau RST, pemindai akan menutup koneksi dengan mengirimkan paket TCP RST, sehingga tidak ada koneksi yang sebenarnya terjalin dengan host target.
Keuntungan dari TCP scan adalah kemampuannya untuk memberikan informasi yang akurat tentang keadaan keterbukaan port pada host target. Hasil pemindaian ini biasanya lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan teknik pemindaian lainnya. Namun, ada beberapa keterbatasan dan masalah yang perlu diperhatikan:
• Kecepatan: TCP scan dapat memakan waktu lebih lama daripada teknik pemindaian lain yang lebih cepat, seperti Syn Scan, karena melibatkan proses pembentukan koneksi lengkap.
• Deteksi oleh IDS/IPS: Koneksi lengkap yang dibentuk oleh TCP scan dapat lebih mudah dideteksi oleh Intrusion Detection Systems (IDS) atau Intrusion Prevention Systems (IPS).
• Jejak Log: Karena melakukan koneksi lengkap, TCP scan dapat meninggalkan jejak log di host target, yang dapat terdeteksi oleh administrator jaringan.
4. UDP Scan
UDP scan adalah salah satu teknik dalam pemindaian keamanan jaringan yang digunakan untuk mengidentifikasi port yang terbuka pada sebuah host yang menjalankan layanan menggunakan protokol UDP (User Datagram Protocol). UDP adalah protokol transport yang berbeda dari TCP (Transmission Control Protocol) yang lebih umum digunakan. Perbedaan utama antara UDP dan TCP adalah bahwa UDP tidak memiliki mekanisme koneksi atau konfirmasi pengiriman data seperti yang dimiliki oleh TCP.
Dalam UDP scan, seorang penyerang akan mencoba mengirimkan paket UDP ke berbagai port pada host target dan mengamati responsenya. Respons yang berbeda dapat mengindikasikan apakah port tertentu terbuka atau tertutup.
Berikut adalah beberapa hasil yang mungkin dalam UDP scan:
• Port Terbuka: Jika host merespons dengan paket UDP yang valid atau respons khusus yang menunjukkan bahwa port tersebut aktif, maka port tersebut dianggap terbuka. Port terbuka dapat menunjukkan adanya layanan yang berjalan di port tersebut.
• Port Tertutup: Jika host merespons dengan paket ICMP (Internet Control Message Protocol) yang menunjukkan bahwa port tersebut tidak dapat dijangkau atau jika tidak ada respons sama sekali, maka port tersebut dianggap tertutup. Ini berarti tidak ada layanan yang berjalan di port tersebut.
• Port Filt: Dalam beberapa kasus, firewall atau perangkat keamanan dapat menghasilkan respons yang berbeda untuk port yang terbuka dan port yang tertutup. Ini dapat menunjukkan bahwa port tersebut dilindungi oleh firewall atau perangkat keamanan yang memblokir akses dari luar.
5. OS Scan
OS Scan, singkatan dari “Operating System Scan,” adalah teknik pemindaian keamanan jaringan yang digunakan untuk mencoba mengidentifikasi sistem operasi yang digunakan oleh host atau perangkat dalam jaringan target. Tujuan dari OS Scan adalah untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang host target, yang dapat membantu peneliti keamanan atau administrator jaringan dalam memahami lingkungan jaringan mereka dan mengidentifikasi potensi kerentanan.
OS scan dapat melibatkan berbagai metode, termasuk:
• Fingerprinting: Metode ini mencoba mengidentifikasi sistem operasi host target berdasarkan respons yang dihasilkan oleh host ketika menerima permintaan dari pemindaian. Respons ini mungkin mencakup berbagai parameter, seperti perilaku TCP/IP yang tidak standar, penggunaan opsi TCP/IP tertentu, atau respons terhadap paket tertentu.
• Analisis Banner: Beberapa layanan jaringan mengirimkan banner atau informasi identifikasi yang menyertakan informasi tentang sistem operasi yang digunakan. OS scan dapat mencoba mengambil informasi ini dari banner yang dikirimkan oleh layanan.
• Analisis Pola Paket: OS scan juga dapat melibatkan analisis pola paket yang dikirimkan oleh host target. Sistem operasi berbeda dapat memiliki karakteristik pola paket yang berbeda yang dapat digunakan untuk mengidentifikasinya.
• Analisis Respons Paket: Metode ini melibatkan pengamatan terhadap respons paket dari host target terhadap permintaan yang dikirimkan selama pemindaian. Respons ini dapat mengandung tanda-tanda yang mengungkapkan sistem operasi yang digunakan.
6. Service Version Scan
Merupakan teknik pemindaian keamanan jaringan yang digunakan untuk mengidentifikasi versi atau rincian lebih lanjut tentang layanan atau aplikasi yang berjalan di port-port tertentu pada host target dalam jaringan. Tujuan dari teknik ini adalah untuk mengumpulkan informasi yang lebih mendalam tentang layanan yang berjalan pada port-port terbuka, termasuk versi perangkat lunak yang digunakan. Dengan mengetahui versi perangkat lunak yang spesifik, peneliti keamanan atau
administrator jaringan dapat menilai potensi kerentanan yang mungkin ada pada layanan tersebut.
Cara kerja service version scan adalah sebagai berikut:
• Pemindaian Port Terbuka: Sebelum melakukan service version scan, biasanya dilakukan pemindaian port terbuka menggunakan teknik pemindaian port lainnya, seperti TCP connect scan atau Syn Scan, untuk mengidentifikasi port-port yang terbuka pada host target.
• Permintaan Informasi Versi: Setelah mengetahui port-port yang terbuka, teknik service version scan akan mengirimkan permintaan khusus yang dirancang untuk mengidentifikasi versi atau rincian lebih lanjut tentang layanan yang berjalan pada port tersebut.
• Analisis Respons: Setelah mengirimkan permintaan, teknik ini akan menganalisis respons yang diterima dari host target. Respons tersebut mungkin mengandung informasi seperti nama perangkat lunak, versi, atau rincian konfigurasi lainnya yang dapat membantu dalam mengidentifikasi layanan tersebut.
• Pemantauan dan Pelaporan: Hasil dari service version scan akan dicatat dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi kerentanan yang mungkin ada pada layanan yang berjalan pada host target. Informasi ini juga dapat digunakan untuk pemantauan dan pemeliharaan keamanan jaringan.
3.3.4 Cara Kerja Vulnerability Scanning & Assesment
Vulnerability Assessment atau evaluasi kerentanan, adalah proses untuk
mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengukur kerentanan atau celah keamanan dalam infrastruktur IT, sistem jaringan, perangkat lunak, dan aplikasi perusahaan. Tujuan dari Vulnerability Assessment atau uji kerentanan adalah untuk mengidentifikasi potensi titik lemah atau kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti penyerang atau peretas, guna merusak, mencuri, atau mengganggu operasional perusahaan.
Berikut adalah tahapan umum dari cara kerja Vulnerability Assessment:
➢ Perencanaan dan Persiapan
• Tentukan tujuan dan cakupan assessment, termasuk infrastruktur,
aplikasi, dan sistem yang akan dievaluasi.
• Identifikasi sumber daya yang akan digunakan, termasuk perangkat
lunak, alat, dan sistem analisis keamanan yang sesuai.
• Pastikan adanya izin dan otorisasi yang diperlukan sebelum melakukan
asesmen untuk menghindari potensi masalah hukum atau privasi.
➢ Pengumpulan Informasi
• Kumpulkan informasi tentang infrastruktur IT perusahaan yang akan
dinilai, seperti alamat IP, sistem operasi, aplikasi, dan konfigurasi
jaringan.
• Identifikasi semua host (perangkat) dan layanan yang berjalan dalam
jaringan.
➢ Pengenalan dan Pendekatan Pemindaian
• Lakukan pemindaian awal untuk mengenali semua host yang aktif dalam
jaringan.
• Pilih pendekatan pemindaian yang sesuai, seperti pemindaian berbasis
agen, pemindaian jaringan, atau pemindaian kode sumber (untuk
aplikasi web).
➢ Pemindaian Kerentanan
• Gunakan alat keamanan khusus untuk memindai host dan layanan dalam
jaringan. Alat ini akan mencari kerentanan yang telah diketahui atau
celah umum yang dapat dieksploitasi oleh penyerang.
• Pemindaian ini mencakup pengujian keamanan yang mencari kerentanan
seperti kelemahan sistem operasi, aplikasi yang tidak diperbarui,
konfigurasi yang tidak aman, serta celah keamanan di tingkat jaringan
dan aplikasi.
➢ Analisis Hasil Pemindaian
• Tinjau hasil pemindaian untuk mengidentifikasi dan memahami
kerentanan yang ditemukan.
• Nilai tingkat risiko dari masing-masing kerentanan berdasarkan potensi
dampak dan probabilitas eksploitasi.
➢ Pelaporan
• Buat laporan yang jelas dan terperinci tentang kerentanan yang
ditemukan beserta rekomendasi tindakan korektif.
• Laporan harus mencakup langkah-langkah yang
dapat diambil untuk mengatasi atau mengurangi risiko yang terkait
dengan setiap kerentanan.
➢ Tindakan Korektif
• Implementasikan tindakan korektif yang direkomendasikan sesuai
dengan prioritas dan tingkat urgensi.
• Pastikan bahwa semua kerentanan yang signifikan ditangani dan diselesaikan. ➢ Monitoring dan Evaluasi Lanjutan
• Pantau Keamanan infrastruktur secara berkala dengan Vilnerability Assessment yang berulang
• Evaluasi efektivitas langkag-langkah korektif yang diimplementasikan dan pastikan bahwa sistem tetap terlindungi dari kerentanan baru yang muncul
3.3.5 Tahapan aktivasi hacking yang didefinisikan dalam sertifikasi CEH
➢ Reconnaissance
Reconnaissance adalah tahap mengumpulkan data di mana hacker akan
mengumpulkan semua data sebanyak-banyaknya mengenai target.
➢ Scanning
Scanning merupakan tanda dari dimulainya sebuah serangan hacker
(preattack). Melalui scanning ini, hacker akan mencari berbagai
kemungkinan yang bisa diguankan hacker untuk mengambil alih komputer
korban.
➢ Gaining Access
Melalui sebuah informasi yang didapatkan, hacker akan mulai menyerang
computer korban untuk menyerang computer korban untuk menguasainya.
➢ Maintaining Access
Setelah mendapatkan akses ke computer korban, hacker biasanya ingin
tetap menguasai computer tersebut.
➢ Covering Tracks
Biasanya hacker akan berusaha menutup jejak mereka dengan cara
menghapus log file serta menutup semua jejak yang mungkin ditinggalkan.
3.1.1 Tools Vulnerability Scanning & Assesment
➢ Nmap
Nmap (Network Mapper) merupakan suatu opensource tools yang
biasanya digunakan untuk eksplorasi, information gathering, dan
vulnerability scanning sebuah jaringan. Tools ini merupakan ciptaan seorang
ahli cyber security Bernama Gordon Lyon pada tahun 1997 dan menjadi
salah satu tools yang paling sering digunakan dalam hacking dan penetration
testing karena kemampuannya memindai jaringan yang terhubung ke
computer/machine target dan fitur-fitur lainnya yang membantu pengguna
memahami detail pada sebuah jaringan. Nmap sendiri dapat digunakan
secara gratis pada semua OS seperti Windows, Mac OS, Linux (semua
distro), OpenBSD, FreeBSD, dan OS-OS lainnya. Perlu diketahui juga,
Nmap menjadi tools bawaan pada beberapa OS tertentu. Salah satu OS yang
sudah menyediakan Nmap secara default adalah Kali Linux.
➢ OwaspZAP
OWASP ZAP adalah alat pengujian penetrasi yang membantu
pengembang dan profesional keamanan mendeteksi dan menemukan
kerentanan dalam aplikasi web. ZAP adalah dikenal sebagai “proxcy man-in
the-middle.” Itu berdiri di antara browser dan aplikasi web. Saat Anda
menavigasi semua fitur situs web, itu menangkap semua tindakan. Kemudian
menyerang situs web dengan teknik yang diketahui untuk menemukan
kerentanan keamanan.
Saat ZAP spider aplikasi web, ia membangun peta halaman aplikasi web
dan sumber daya yang digunakan untuk merender halaman tersebut.
Kemudian merekam permintaan dan respons yang dikirim ke setiap halaman
dan membuat peringatan jika ada sesuatu yang berpotensi salah dengan
permintaan atau respons. OWASP ZAP melakukan beberapa fungsi
keamanan termasuk:
• Memindai permintaan web secara pasif
• Menggunakan daftar kamus untuk mencari file dan folder di server web
• Menggunakan crawler untuk mengidentifikasi struktur situs dan
mengambil semua link dan URL
• Mencegat, menampilkan, memodifikasi, dan meneruskan permintaan
web antara browser dan aplikasi web
OWASP ZAP dapat mengidentifikasi kerentanan dalam aplikasi
web termasuk otentikasi yang disusupi, paparan data sensitif,
kesalahan konfigurasi keamanan, injeksi SQL, skrip lintas situs (XSS),
deserialisasi yang tidak aman, dan komponen dengan kerentanan yang
diketahui.
➢ Nikto
Nikto adalah alat pemindai / tools scanning kerentanan, dibuat dengan
bahasa pemrograman Perl dan awalnya dirilis pada akhir 2001, yang
menyediakan pemindaian / scanning kerentanan tambahan khusus untuk
server web, artinya Nikto termasuk dalam tools / alat CGI scanner.
Nikto melakukan pemindaian pada website tertarget dengan mengirim
perintah request sederhana yang akan melakukan uji coba atau pencarian
informasi terkait link, file, software, log, dan informasi server. Dengan
mencocokan versi pada target ke database yang berisi daftar versi yang
memiliki celah keamanan dan menampilkannya sebagai informasi yang bisa
dimanfaatkan pengguna nikto.
Fitur-fitur Nikto:
• Laporan output dalam HTML atau teks biasa
• Pergantian otomatis versi HTTP yang tersedia
• Pemeriksaan Software server umum dan khusus
• Dukungan SSL
• Dukungan proxy
• Dukungan cookie
• Menemukan sub-domain
• Memberikan rincian perangkat lunak (software) yang diinstal
• Mengambil file Nmap sebagai input untuk memindai port di server web.
• Mampu melakukan dictionary attack.
➢ Dirsearch
Dirsearch adalah alat yang melakukan serangan bruteforce terhadap
direktori dan file sensitif yang ditemukan di situs web. Dirsearch
memberikan pengguna kesempatan untuk melakukan penemuan konten web
yang kompleks, dengan banyak vektor untuk daftar kata, akurasi tinggi,
kinerja yang mengesankan, pengaturan koneksi/permintaan tingkat lanjut,
teknik brute-force modern, dan keluaran yang bagus.