WALK TEST 

WALK TEST 

7.3 Dasar Teori 

7.3.1 Walk Test 

Walk Test adalah pengukuran kualitas sinyal yang dilakukan dengan berjalan kaki  di wilayah yang relatif kecil (indoor). Umumnya, Walk Test dilakukan di daerah gedung  perkuliahan, perkantoran, apartemen dan pusat perbelanjaan. 

Walk Test bertujuan untuk mengetahui dan mengamati kondisi sinyal suatu wilayah  dengan memperhatikan nilai kuat sinyal terima (Rx level) dan kualitas sinyal terima (Rx  quality) dari sisi UE sehingga dapat diketahui kondisi sinyal di wilayah tersebut masih  layak atau perlu dilakukan optimasi. 

7.3.2 Pengukuran pada Walk Test 

Terdapat dua jenis pengukuran pada saat proses Walk Test diantaranya : 

a. Idle Mode 

Idle Mode adalah jenis pengkuruan kualitas sinyal dimana UE dalam keadaan diam  atau tidak melakukan panggilan (tidak menduduki kanal). Tujuan dari pengukuran ini  yaitu untuk mengetahui kekuatan sinyal suatu wilayah yang terindikasi sinyal lemah. b. Dedicated Mode 

Dedicated mode adalah jenis pengukuran kualitas sinyal dimana UE dalam keadaan 

sedang melakukan panggian (menduduki kanal). Tujuan dari pengukuran ini yaitu  untuk mengidentifikasi kualitas suara dan data. 

7.3.3 Event pada saat Walk Test 

Terdapat beberapa event yang terjadi pada saat proses Walk Test diantaranya : 

a. Call Setup 

Call setup adalah proses ketika UE satu sedang menghubungi UE lain. b. Call established 

Call established adalah proses ketika UE satu dengan UE lain sedang melakukan  hubungan. 

c. Call end 

Call end adalah kejadian ketika UE satu sudah memutuskan hubungan dengan UE  lainnya. 

d. Blocked call 

Blocked call adalah kejadian ketika panggilan tertolak karena tidak mendapatkan kanal  traffic. 

e. Dropped call 

Dropped call adalah kejadian ketika panggilan terputus karena kanal trafik sedang  penuh. 

f. Handover 

Handover adalah kejadian ketika UE dalam keadaan dedicated mode berpindah dari  satu sel ke sel lain tanpa terjadinya pemutusan hubungan. 

g. Cell reselection 

Cell reselection adalah kejadian ketika UE dalam keadaan Idle Mode berpindah dari  satu sel ke sel lain tanpa terjadinya pemutusan hubungan. 

h. Radio Link Addition 

Radio Link Addition adalah penambahan aktif site baru. 

i. Radio Link Removal 

Radio Link Removal adalah pemindahan active site menjadi monitoring neighbors.  

7.3.4 Parameter Radio Frequency (RF) UMTS 

Terdapat tiga parameter RF yang harus diperhatikan pada saat proses Walk Test

pada teknologi UMTS, diantaranya: 

a. Received Signal Code Power (RSCP) 

RSCP adalah parameter tingkat kekuatan sinyal terima. RSCP menyatakan besar daya  sinyal yang diterima oleh UE (dBm). Semakin jauh jarak antara site dan UE maka  semakin kecil RSCP yang diterima oleh UE, dan begitu pula sebaliknya. Pada  teknologi GSM parameter ini dianalogikan sebagai RxLev. 

Tabel 7.1 Standar Nilai RSCP 

Nilai (dBm) Kategori Warna
-75 s.d -15 Baik
-92 s.d -76 Cukup Baik
-120 s.d -93 Buruk

b. Energy Carrier/Noise (Ec/No) 

Ec/No adalah parameter perbandingan antara kekuatan sinyal terima dengan sinyal  derau/interferensi. Ec/No menyatakan kualitas sinyal yang diterima oleh UE (dB).  Semakin banyak hambatan (obstacle) antara site dan UE maka semakin kecil Ec/No yang  diterima oleh UE, dan begitu pula sebaliknya. Pada teknologi GSM parameter ini  dianalogikan sebagai RxQual. 

Tabel 7.2 Standar Nilai Ec/No 

Nilai (dBm) Kategori Warna
-8 s.d 0 Baik
-11 s.d -9 Cukup Baik
–25 s.d -12 Buruk

c. Speech Quality Indicator (SQI) 

SQI adalah indikator kualitas suara yang diukur dalam keadaan dedicated (dBm).  Umumnya, SQI diukur dengan melakukan panggilan telepon. Semakin besar nilai SQI  maka semakin baik kualitas suara, dan begitu pula sebaliknya.

Tabel 7.3 Standar Nilai SQI 

Nilai (dBm) Kategori Warna
18 s.d 30 Baik
0 s.d 18 Cukup Baik
-20 s.d 0 Buruk

7.3.5 Parameter Radio Frequency (RF) LTE 

Terdapat lima parameter RF yang harus diperhatikan pada saat proses Walk Test  teknologi LTE, diantaranya : 

a. Reference Signal Received Power (RSRP) 

RSRP adalah parameter tingkat kekuatan sinyal terima. RSRP menyatakanbesar daya  sinyal yang diterima oleh UE (dBm). Semakin jauh jarak antara site dan UE maka  semakin kecil RSRP yang diterima oleh UE, dan begitu pula sebaliknya. Pada teknologi  GSM parameter ini dianalogikan sebagai RxLev sedangkan pada teknologi UMTS  parameter ini dianalogikan sebagai RSCP. 

Tabel 7.4 Standar Nilai RSRP 

Nilai (dBm) Kategori Warna
-90 s.d -70 Baik
-109 s.d -91 Cukup Baik
-130 s.d -110 Buruk

b. Signal to Interface Noise Ratio (SINR) 

SINR adalah parameter perbandingan antara kekuatan sinyal terima dengan sinyal derau/interferensi. SINR menyatakan kualitas sinyal yang diterima oleh UE (dB).  Semakin banyak hambatan (obstacle) antara site dan UE maka semakin kecil SINR yang  diterima oleh UE, dan begitu pula sebaliknya. Pada teknologi GSM parameter ini  dianalogikan sebagai RxQual sedangkan pada teknologi UMTS parameter ini  dianalogikan sebagai Ec/No.

Tabel 7.5 Standar Nilai SINR 

Nilai (dBm) Kategori Warna
16 s.d 30 Baik
1 s.d 15 Cukup Baik
-10 s.d 0 Buruk

c. Received Signal Strength Indicator (RSSI) 

RSSI adalah parameter tingkat kekuatan sinyal yang diterima bersamaan dengan sinyal  derau/interferensi. RSSI menyatakan keseluruhan daya sinyal yang diterima oleh UE  (dBm). 

Tabel 7.6 Standar Nilai RSSI 

Nilai (dBm) Kategori Warna
> -85 Baik
-90 s.d -85 Cukup Baik
< -90 Buruk

d. Reference Signal Received Quality (RSRQ) 

RSRQ adalah parameter perbandingan antara RSRP dan RSSI. Sama seperti SINR,  RSRQ juga menyatakan kualitas sinyal yang diterima oleh UE (dB). 

Tabel 7.7 Standar Nilai RSRQ 

Nilai (dBm) Kategori Warna
> -12 Baik
-18 s.d -12 Cukup Baik
< -18 Buruk

e. Channel Quality Indicator (CQI) 

CQI adalah indikator kualitas kanal downlink yang diukur dalam keadaan dedicated  (dBm). Umumnya, CQI diukur dengan melakukan unduh data. Semakin besar nilai  CQI maka semakin baik kualitas kanal, dan begitu pula sebaliknya.

Tabel 7.8 Standar Nilai CQI 

Nilai (dBm) Kategori Warna
10 s.d 15 Baik
7 s.d 9 Cukup Baik
0 s.d 6 Buruk

7.3.6 Parameter Key Performance 

Terdapat empat parameter KPI yang harus diperhatikan pada saat proses Walk Test,  diantaranya: 

a. Call setup Success Rate (CSSR) 

CSSR adalah parameter persentase tingkat keberhasilan panggilan telepon  berdasarkan kanal suara yang tersedia. Parameter ini dipengaruhi oleh ketersediaan  kanal suara yang dialokasikan untuk mengetahui kesuksesan sebuah panggilan  telepon. Nilai CSSR dapat diperoleh menggunakan rumus berikut. 

Tabel 7.9 Standar Nilai CSSR 

Nilai (%) Kategori Warna
> 95 Baik
80 s.d 95 Cukup Baik
< 80 Buruk

b. Call Completion Success Rate (CCSR) 

CCSR adalah parameter persentase tingkat keberhasilan panggilan telepon  berdasarkan proses panggilan yang dilakukan secara normal. Parameter ini  dipengaruhi oleh panggilan yang dimulai dan diakhiri dengan normal untuk  mengetahui kesuksesan sebuah panggilan telepon. Nilai CCSR dapat diperoleh  menggunakan rumus berikut :

Tabel 7.10 Standar Nilai CSSR 

Nilai (%) Kategori Warna
> 95 Baik
80 s.d 95 Cukup Baik
< 80 Buruk

c. Dropped Call Rate (DCR) 

DCR adalah parameter persentase tingkat kegagalan panggilan telepon. Parameter ini  dipengaruhi oleh panggilan yang terputus antara pengirim dan penerima. Nilai DCR  dapat diperoleh menggunakan rumus berikut: 

Tabel 7.11 Standar Nilai DCR 

Nilai (%) Kategori Warna
≤ 5 Baik
< 5 Buruk

d. Blocked Call Rate (BCR) 

BCR adalah parameter persentase tingkat kepadatan panggilan telepon. Parameter ini  dipengaruhi oleh keterbatasan kanal suara yang tersedia. Nilai BCR dapat diperoleh  menggunakan rumus berikut. 

Tabel 2.12 Standar Nilai BCR 

Nilai (%) Kategori Warna
≤ 5 Baik
< 5 Buruk

7.3.7 Nemo Handy 

Nemo Handy adalah aplikasi Android yang memungkinkan pengukuran informasi  diagnostik nirkabel antarmuka udara dan kualitas layanan (QoS) aplikasi seluler dan  kualitas pengalaman (QoE).

7.3.8 Metodologi Pelaksanaan Walk Test

Pelaksanaan Walk Test biasanya mengikuti tahapan-tahapan berikut:

  1. Perencanaan Area Walk Test
    Menentukan area yang akan diuji (misal: lantai gedung, koridor, ruangan tertentu), berdasarkan kebutuhan optimasi jaringan.
  2. Persiapan Alat dan Perangkat
    • Smartphone atau perangkat UE yang sudah terinstal aplikasi Walk Test (misal Nemo Handy).
    • GPS atau perangkat positioning untuk pencatatan lokasi (jika indoor, bisa menggunakan sistem positioning lain).
    • Laptop untuk monitoring dan pencatatan data.
  3. Pelaksanaan Pengukuran
    • Melakukan pengukuran dengan berjalan kaki secara perlahan di area yang sudah ditentukan.
    • Melakukan pengukuran dalam mode Idle dan Dedicated sesuai kebutuhan.
    • Melakukan beberapa skenario seperti panggilan telepon, data streaming, dan handover.
  4. Pencatatan dan Penyimpanan Data
    Semua data sinyal dan event direkam dan disimpan untuk dianalisis.
  5. Analisa Data dan Optimasi
    Melakukan analisa terhadap hasil pengukuran untuk menentukan titik lemah dan merekomendasikan tindakan perbaikan.

7.3.9 Tools Pendukung Walk Test

Beberapa tools yang umum digunakan dalam proses Walk Test:

  • Nemo Handy
    Aplikasi Android yang dapat mengukur berbagai parameter RF dan KPI secara real-time.
  • Drive Test Software (contoh: TEMS Investigation)
    Digunakan untuk pengukuran sinyal secara mobile dan lebih kompleks.
  • Network Monitoring System (NMS)
    Untuk memantau jaringan secara keseluruhan dan mendapatkan data statistik.
  • GPS / Indoor Positioning Systems
    Untuk mendapatkan koordinat lokasi pengukuran, penting agar hasil walk test akurat secara posisi.

7.3.10 Pentingnya Walk Test dalam Pengembangan Jaringan

  • Validasi Desain Jaringan
    Walk Test membantu memvalidasi apakah perencanaan jaringan yang dibuat sudah sesuai di lapangan.
  • Identifikasi Area Bermasalah
    Mendapatkan gambaran area dengan sinyal lemah, gangguan, dan problem handover.
  • Optimalisasi Pengaturan Jaringan
    Memberikan data untuk melakukan tuning parameter seperti power output, antenna tilt, dan konfigurasi sel.
  • Evaluasi Kualitas Layanan (QoS & QoE)
    Memastikan pengguna mendapatkan pengalaman layanan yang baik.

7.3.11 Studi Kasus Walk Test Indoor

Contoh penerapan Walk Test di gedung perkantoran:

  • Dilakukan pengukuran di tiga lantai dengan rute yang sama.
  • Ditemukan area dengan nilai RSRP -120 dBm dan SINR < 0 yang menandakan kualitas sinyal buruk.
  • Tindakan optimasi dengan penambahan repeater indoor dan antenna repositioning berhasil meningkatkan RSRP menjadi -85 dBm dan SINR menjadi 10 dB.
  • Call Setup Success Rate meningkat dari 82% menjadi 96%.

KESIMPULAN

  1. Walk Test merupakan metode pengukuran kualitas sinyal secara real-time dengan berjalan kaki di area tertentu, biasanya di lingkungan indoor seperti gedung perkuliahan, perkantoran, dan pusat perbelanjaan, untuk mengamati kekuatan dan kualitas sinyal dari sisi User Equipment (UE).
  2. Pengukuran Walk Test dilakukan dalam dua mode utama, yaitu:
    • Idle Mode untuk mengetahui kekuatan sinyal saat UE tidak aktif melakukan panggilan.
    • Dedicated Mode untuk mengevaluasi kualitas suara dan data ketika UE sedang melakukan panggilan.
  3. Selama Walk Test, berbagai event dapat terjadi, seperti panggilan tersambung (call established), panggilan terputus (dropped call), handover antar sel, dan lainnya, yang masing-masing mencerminkan kondisi jaringan yang berbeda.
  4. Parameter Radio Frequency (RF) yang penting untuk teknologi UMTS dan LTE harus diperhatikan, termasuk kekuatan sinyal (RSCP, RSRP), kualitas sinyal (Ec/No, SINR, RSRQ), serta indikator kualitas suara dan kanal data (SQI, CQI).
  5. Parameter Key Performance Indicators (KPI) seperti Call Setup Success Rate (CSSR), Call Completion Success Rate (CCSR), Dropped Call Rate (DCR), dan Blocked Call Rate (BCR) menjadi tolok ukur keberhasilan dan kualitas layanan jaringan telekomunikasi.
  6. Tools seperti Nemo Handy dan software drive test lainnya sangat membantu dalam proses pengukuran dan analisa data selama Walk Test.
  7. Pelaksanaan Walk Test melibatkan tahapan perencanaan area, persiapan alat, pengukuran di lapangan, pencatatan data, hingga analisa hasil untuk optimasi jaringan.
  8. Walk Test sangat penting dalam:
    • Memvalidasi desain dan rencana jaringan.
    • Mengidentifikasi area dengan kualitas sinyal yang buruk.
    • Memberikan data untuk optimasi pengaturan jaringan.
    • Mengevaluasi kualitas layanan dan pengalaman pengguna secara langsung.
  9. Studi kasus Walk Test indoor menunjukkan bahwa dengan pengukuran yang tepat, langkah optimasi seperti penambahan repeater dan repositioning antena dapat secara signifikan meningkatkan kualitas sinyal dan performa jaringan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *