
Pendidikan Indonesia Hari Ini: Mencetak SDM Unggul di Era Teknologi
Pendidikan adalah fondasi dari peradaban, jembatan menuju masa depan yang lebih cerah, dan alat utama membentuk sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, sistem pendidikan Indonesia menghadapi tantangan besar sekaligus peluang emas. Di satu sisi, kita sedang berhadapan dengan kesenjangan kualitas, infrastruktur yang belum merata, serta ketimpangan digital. Di sisi lain, era teknologi membuka peluang pembelajaran tanpa batas, inovasi kurikulum, dan percepatan penciptaan generasi unggul yang siap bersaing di tingkat global.
Pertanyaannya: apakah sistem pendidikan Indonesia hari ini cukup adaptif untuk mencetak SDM unggul di era teknologi?
Gambaran Umum: Di Mana Posisi Pendidikan Indonesia?
Indonesia memiliki sistem pendidikan formal yang cukup luas dengan lebih dari 50 juta siswa, ratusan ribu sekolah, dan jutaan pendidik. Namun, secara kualitas, Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dari OECD, misalnya, secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia berada di bawah rata-rata global.
Masalah klasik seperti kurikulum yang padat tapi kurang aplikatif, metode pengajaran yang masih dominan satu arah, serta minimnya pelatihan guru yang mutakhir menjadi penghambat utama. Selain itu, kesenjangan pendidikan antara kota dan desa, serta akses pendidikan tinggi yang belum merata, memperparah situasi.
Namun di sisi lain, lahirnya Kurikulum Merdeka, program digitalisasi sekolah, dan peningkatan pelatihan guru merupakan tanda bahwa perubahan sedang diupayakan. Pertanyaannya, cukupkah itu semua untuk menghadapi tantangan zaman?
Era Teknologi: Pisau Bermata Dua
Revolusi Industri 4.0 dan bahkan kini Revolusi 5.0 telah mengubah paradigma tentang dunia kerja dan kehidupan sosial. Kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), big data, hingga otomatisasi, menuntut jenis kompetensi baru: literasi digital, pemikiran kritis, kemampuan kolaborasi, dan kreativitas tinggi.
Siswa tidak lagi cukup hanya menghafal informasi, tetapi harus mampu mengolah, menganalisis, dan menciptakan. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator pembelajaran. Buku teks bukan lagi media utama, karena kini ada video interaktif, simulasi daring, bahkan pembelajaran berbasis game.
Namun, teknologi juga bisa menjadi ancaman jika tidak digunakan dengan bijak. Ketimpangan akses internet, kecanduan gawai, dan lemahnya literasi digital di banyak kalangan pelajar menjadi persoalan tersendiri. Belum lagi, infrastruktur TIK di pelosok Indonesia masih tertinggal.
Kurikulum Merdeka: Harapan Baru?
Salah satu terobosan yang paling menonjol dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) adalah Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), penguatan karakter, serta fleksibilitas pembelajaran sesuai konteks dan minat siswa.
Salah satu nilai tambah Kurikulum Merdeka adalah adanya ruang bagi guru dan siswa untuk mengeksplorasi, berinovasi, dan mengaitkan pembelajaran dengan dunia nyata. Kompetensi seperti pemrograman dasar, robotika, dan desain digital mulai masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler dan program keahlian.
Namun, implementasinya belum merata. Banyak sekolah, terutama di daerah, belum siap dengan pendekatan ini karena keterbatasan SDM, pelatihan guru, dan infrastruktur. Tanpa dukungan menyeluruh, Kurikulum Merdeka bisa berisiko menjadi kebijakan yang baik di atas kertas namun sulit diwujudkan secara nyata.
Peran Guru di Era Teknologi
Guru tetap menjadi kunci utama dalam pendidikan. Di era teknologi, guru bukan lagi sekadar pengajar, tetapi pendamping belajar yang mampu memotivasi, memfasilitasi, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang belum siap dengan transformasi digital. Pelatihan TIK belum merata, pemanfaatan Learning Management System (LMS) belum optimal, dan sebagian guru masih kesulitan membuat konten digital sendiri.
Pemerintah sudah memulai program Guru Penggerak, Platform Merdeka Mengajar, dan microcredential berbasis digital, namun jangkauan dan efektivitasnya masih perlu diperluas. Guru di era ini harus memiliki digital mindset, bukan hanya sekadar bisa menggunakan aplikasi.
Pembelajaran Jarak Jauh: Solusi atau Tantangan?
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik besar dalam sistem pendidikan Indonesia. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dulu hanya sebatas wacana, kini menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari. Google Classroom, Zoom, YouTube Edukasi, hingga platform lokal seperti Rumah Belajar dan Ruangguru menjadi sarana pembelajaran utama.
Namun, pandemi juga menelanjangi ketimpangan digital di negeri ini. Banyak siswa di daerah terpencil yang tidak memiliki gawai, sinyal internet, atau bahkan listrik yang stabil. Akibatnya, banyak yang tertinggal dalam proses belajar.
Pasca-pandemi, blended learning (kombinasi daring dan luring) menjadi pendekatan yang mulai diadopsi. Namun tantangan infrastruktur dan kualitas konten masih harus ditangani. Pemerintah dan sektor swasta perlu bersinergi untuk menghadirkan akses internet yang merata dan terjangkau.
Pendidikan Vokasi dan Link and Match
Era teknologi menuntut keterampilan kerja yang spesifik dan aplikatif. Oleh karena itu, pendidikan vokasi menjadi tumpuan untuk mencetak tenaga kerja siap pakai. Indonesia telah mencanangkan program Revitalisasi SMK dan Kampus Merdeka Vokasi.
Namun, kendala klasik masih ada: kurangnya keterlibatan industri, fasilitas praktik yang terbatas, dan kesenjangan antara kurikulum dan kebutuhan dunia kerja. Banyak lulusan SMK yang masih menganggur karena tidak relevan dengan tuntutan industri 4.0.
Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) di tingkat perguruan tinggi merupakan langkah positif. Namun agar link and match berjalan optimal, perlu kolaborasi nyata antara lembaga pendidikan, dunia industri, dan pemerintah daerah.
Peran EdTech dan Startup Pendidikan
Munculnya startup edtech seperti Ruangguru, Zenius, Sekolah.mu, hingga HarukaEdu menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan untuk menjangkau pendidikan berkualitas. Mereka menyediakan materi belajar interaktif, kelas daring, pelatihan guru, hingga simulasi ujian nasional.
Namun, tantangannya adalah bagaimana edtech bisa menjadi bagian dari sistem, bukan pesaingnya. Pemerintah perlu membuka ruang kolaborasi dan regulasi yang mendukung agar ekosistem edtech bisa berkembang dengan sehat dan inklusif.
Selain itu, penting untuk memastikan bahwa konten digital yang tersedia tidak hanya berorientasi pada ujian, tetapi juga mengembangkan karakter, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas siswa.
Tantangan Mental dan Karakter
Di tengah transformasi digital, pendidikan karakter tidak boleh diabaikan. Tantangan mental seperti stres, kecemasan, dan krisis identitas di kalangan remaja meningkat akibat tekanan akademik dan paparan media sosial.
Pendidikan harus mencetak manusia berkarakter kuat, adaptif, dan memiliki empati. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia perlu menyeimbangkan antara hard skills dan soft skills, antara kecerdasan digital dan kecerdasan emosional.
Sekolah perlu menjadi tempat yang aman dan nyaman, bukan hanya tempat untuk mengejar nilai. Guru harus dibekali kemampuan konseling dasar dan manajemen kelas yang sehat secara psikologis.
Apa yang Harus Dilakukan?
Mencetak SDM unggul di era teknologi tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan peta jalan (roadmap) yang jelas dan berkelanjutan. Beberapa langkah penting antara lain:
- Peningkatan kompetensi guru secara masif dan berkelanjutan, terutama dalam pedagogi digital dan manajemen pembelajaran fleksibel.
- Pemerataan infrastruktur digital, termasuk internet cepat, perangkat TIK, dan listrik di seluruh wilayah Indonesia.
- Sinergi antara pemerintah, dunia industri, dan institusi pendidikan, agar kurikulum lebih relevan dengan kebutuhan nyata.
- Reformasi pendidikan tinggi, dengan mendorong penelitian terapan, inovasi, dan inkubasi startup berbasis kampus.
- Penguatan pendidikan karakter dan kesehatan mental, agar siswa tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh, berintegritas, dan peduli.
- Pendekatan berbasis data dan evaluasi yang jujur, agar kebijakan pendidikan tidak hanya reaktif, tetapi berbasis kebutuhan nyata.
Penutup: Masa Depan Dimulai dari Sekarang
Mencetak SDM unggul bukan sekadar slogan. Ia adalah investasi jangka panjang yang menentukan arah bangsa. Di tengah disrupsi teknologi yang masif, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar, tapi harus menjadi pemain global.
Pendidikan adalah senjata utama untuk itu. Kita butuh sistem yang bukan hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan pembelajar sepanjang hayat, pencipta, dan pemimpin masa depan. Pendidikan Indonesia tidak boleh tertinggal di era teknologi—justru harus berada di garis depan inovasi.
Dan untuk itu, semua pihak—pemerintah, guru, siswa, orang tua, akademisi, hingga pelaku industri—harus bergandengan tangan. Karena masa depan bangsa, dimulai dari ruang kelas hari ini.
refrensi : https://www.detik.com/tag/pendidikan




