MONITORING DATA SENSOR SECARA REAL-TIME VIA GOOGLE  SHEETS 

MONITORING DATA SENSOR SECARA REAL-TIME VIA GOOGLE  SHEETS 

3.3 Dasar Teori  

3.3.1 Wokwi  

Wokwi adalah sebuah simulator berbasis web yang dirancang untuk mensimulasikan  mikrokontroler seperti Arduino, ESP32, dan Raspberry Pi Pico tanpa memerlukan  perangkat keras fisik. Dengan Wokwi, pengguna dapat menulis, menguji, dan  menjalankan kode langsung dari browser. Platform ini menyediakan berbagai komponen  elektronik virtual seperti sensor, layar LCD, motor, dan lainnya, memungkinkan  pengembang untuk mengembangkan dan menguji proyek IoT atau embedded system  secara efisien.  

Selain itu, Wokwi memiliki antarmuka yang intuitif dan mendukung berbagai bahasa  pemrograman seperti C++, MicroPython, dan CircuitPython. Pengguna juga dapat  melihat simulasi jalannya program secara real-time, melakukan debugging, serta  mengintegrasikan berbagai perangkat tanpa perlu soldering atau pemasangan kabel fisik.  Dengan fitur-fitur ini, Wokwi menjadi alat yang sangat berguna bagi pemula maupun  profesional dalam mengembangkan dan menguji perangkat berbasis mikrokontroler  sebelum diproduksi secara nyata.  

Gambar 3.3. 1 WOKWI 

Kelebihan:  

• Tidak memerlukan perangkat keras, cukup menggunakan browser.  

• Mendukung berbagai mikrokontroler seperti Arduino, ESP32, dan Raspberry Pi Pico.  • Mendukung berbagai bahasa pemrograman seperti C++, MicroPython, dan  CircuitPython.  

• Memungkinkan debugging secara real-time untuk mempermudah pengembangan  proyek.  

• Gratis untuk fitur dasar dan mudah digunakan bagi pemula maupun profesional.  Kekurangan:  

• Tidak semua sensor dan modul elektronik tersedia dalam simulasi.  

• Tidak dapat mensimulasikan aspek fisik perangkat keras seperti noise, latensi  jaringan, atau konsumsi daya.  

• Memerlukan koneksi internet karena berbasis web.  

• Versi gratis memiliki keterbatasan fitur dibandingkan versi berbayar. 

3.3.2 Google Sheets 

Gambar 3.3. 2 Google Sheets 

Google Sheets adalah aplikasi spreadsheet berbasis cloud yang dikembangkan oleh  Google. Layanan ini memungkinkan pengguna untuk membuat, mengedit, dan  menyimpan data dalam bentuk tabel secara online. Google Sheets mendukung kolaborasi  secara real-time, di mana beberapa pengguna dapat mengakses dan mengedit dokumen  secara bersamaan. Selain itu, Google Sheets juga mendukung penggunaan script dan API  yang memungkinkan integrasi dengan berbagai aplikasi atau perangkat eksternal.  

Dalam konteks Internet of Things (IoT), Google Sheets dapat dimanfaatkan sebagai  media pencatatan dan penyimpanan data sensor secara real-time. Perangkat seperti  ESP32 yang terhubung dengan sensor dapat mengirimkan data secara langsung ke  Google Sheets melalui koneksi internet. Hal ini mempermudah proses pemantauan,  analisis data, dan pelaporan tanpa memerlukan server lokal atau database khusus,  menjadikan Google Sheets sebagai solusi praktis untuk aplikasi monitoring berbasis IoT. 

Fitur:  

• Mendukung input data otomatis melalui API dan layanan pihak ketiga (seperti IFTTT  atau Google Apps Script).  

• Visualisasi data dalam bentuk tabel, grafik, dan diagram secara real-time.  • Kolaborasi secara langsung dengan banyak pengguna dalam satu dokumen.  • Penyimpanan cloud yang dapat diakses dari berbagai perangkat dengan koneksi  internet.  

• Revisi otomatis dan histori perubahan data.  

• Integrasi mudah dengan perangkat IoT seperti ESP32 melalui skrip otomatisasi.  • Gratis digunakan dengan akun Google. 

Kelebihan :  

1. Mudah digunakan dan tidak memerlukan instalasi software tambahan. 

2. Dapat diakses kapan saja dan di mana saja secara online. 

3. Mendukung pemantauan data sensor secara real-time. 

4. Cocok untuk proyek IoT kecil hingga menengah tanpa memerlukan server sendiri. 5. Gratis dan disediakan oleh Google dengan fitur keamanan dasar. 

Kekurangan:  

1. Terbatas pada kuota akses API harian, terutama jika data dikirim terlalu sering. 2. Membutuhkan koneksi internet yang stabil agar sinkronisasi data berjalan lancar. 3. Tidak dirancang khusus untuk IoT, sehingga perlu solusi tambahan untuk skala besar. 4. Fitur otomatisasi terbatas jika dibandingkan dengan platform IoT khusus seperti  ThingsBoard. 

3.3.3 Google Apps Script 

Gambar 3.3. 3 Google Apps Script 

Google Apps Script adalah platform scripting berbasis JavaScript yang disediakan oleh Google  untuk mengotomatisasi, mengintegrasikan, dan memperluas fungsionalitas layanan Google seperti  Google Sheets, Google Docs, Gmail, dan lainnya. Dengan Apps Script, pengguna dapat membuat  fungsi kustom, otomatisasi proses, dan menghubungkan layanan Google dengan aplikasi atau  perangkat eksternal. 

Dalam konteks proyek IoT, Google Apps Script dapat digunakan sebagai jembatan antara  perangkat seperti ESP32 dan Google Sheets. Script ini berfungsi untuk menerima data dari ESP32  (melalui HTTP request), lalu secara otomatis menyimpannya ke dalam lembar kerja Google Sheets.  Dengan cara ini, data sensor dapat dicatat secara real-time tanpa perlu menggunakan server atau  database tambahan.

.  

Fitur Google Apps Script:  

• Mendukung input data otomatis melalui API dan layanan pihak ketiga (seperti IFTTT  atau Google Apps Script).  

• Platform berbasis JavaScript yang terintegrasi langsung dengan layanan Google  (Sheets, Docs, Gmail, dll). 

• Mampu membuat fungsi otomatis seperti pengambilan, pemrosesan, dan  penyimpanan data di Google Sheets. 

• pemrosesan HTTP request (GET/POST) untuk menerima data dari perangkat seperti  ESP32. 

• Memiliki editor online yang langsung terhubung ke akun Google. • Mendukung pemicu otomatis (triggers) berdasarkan waktu, perubahan data, atau aksi  pengguna. 

• Dapat digunakan untuk membuat API sederhana untuk menerima data dari perangkat  IoT.  

Kelebihan :  

1. Gratis digunakan dan langsung terintegrasi dengan produk Google. 2. Mudah diakses dan dikembangkan melalui browser tanpa instalasi tambahan. 3. Mampu menangani input data dari ESP32 secara otomatis ke Google Sheets. 4. Menggunakan sintaks JavaScript yang familiar bagi banyak developer. 5. Cocok untuk solusi IoT skala kecil hingga menengah tanpa server backend. 6. Mendukung trigger otomatis (time-based, on edit, on form submit, dll). 

Kekurangan:  

1. Gratis digunakan dan langsung terintegrasi dengan produk Google. 2. Mudah diakses dan dikembangkan melalui browser tanpa instalasi tambahan. 3. Mampu menangani input data dari ESP32 secara otomatis ke Google Sheets. 4. Menggunakan sintaks JavaScript yang familiar bagi banyak developer. 5. Cocok untuk solusi IoT skala kecil hingga menengah tanpa server backend. 6. Mendukung trigger otomatis (time-based, on edit, on form submit, dll).

3.3.4 Sensor DHT22  

Gambar 3.3. 4 DHT 22  

Sensor DHT22 adalah sensor yang dapat digunakan untuk mengukur suhu dan  kelembapan udara. Sensor ini bekerja dengan pasookan tegangan 3v hingga 5v. suhu yang  di ukur berkisar dari -45°C hingga +125°C serta dapat mengukur kelembapan dari 0%  hingga 100%.  

Sensor jenis ini cukup banyak dipilih karena data keluaran yang dihasilkan sudah dalam  bentuk digital sehingga tidak memerlukan lagi proses konversi dari sinyal analog. DHT22  mampu menampilan nilai hingga satu angka dibelakang koma, faktor harga, rentang nilai  pengukuran, dimensi fisik, kecepatan pencuplikan (sampling rate) dan berbagai  spesifikasi teknis lainnya.  

Kelebihan DHT22:  

1. Akurasi tinggi.  

2. Rentang pengukuran lebar.  

3. Stabilitas jangka panjang.  

4. Mudah digunakan, kompatibel dengan berbagai mikrokontroler seperti Arduino  dan Raspberry Pi.  

Kekurangan DHT22:  

1. Kecepatan Respons lambat, waktu pembacaan data sekitar 2 detik sekali, tidak cocok  untuk aplikasi real-time.  

2. Harga lebih mahal, dibandingkan dengan DHT11, DHT22 lebih mahal meskipun  memiliki performa lebih baik.  

3. Jika terkena air atau kondisi lingkungan ekstrem, sensor bisa mengalami kerusakan. 

3.3.5 ESP32

ESP32 adalah mikrokontroler yang dikembangkan oleh Espressif Systems yang memiliki fitur konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth. Mikrokontroler ini sering digunakan dalam berbagai aplikasi Internet of Things (IoT) karena memiliki performa tinggi, konsumsi daya rendah, dan harga yang terjangkau. ESP32 dilengkapi dengan dua inti prosesor (dual-core), RAM yang cukup besar, dan berbagai antarmuka seperti ADC, DAC, PWM, SPI, I2C, dan UART.

Dalam konteks proyek monitoring data sensor secara real-time, ESP32 berperan sebagai pengirim data sensor ke platform seperti Google Sheets. Dengan dukungan konektivitas Wi-Fi, ESP32 dapat mengirim data menggunakan protokol HTTP ke Google Apps Script yang bertugas mencatat data ke dalam Google Sheets.

Fitur-fitur utama ESP32:

  • Dual-core 32-bit processor dengan clock hingga 240 MHz
  • Wi-Fi 802.11 b/g/n dan Bluetooth 4.2
  • GPIO, ADC (12-bit), DAC, SPI, I2C, UART
  • Mendukung mode deep sleep untuk penghematan daya
  • Kompatibel dengan berbagai platform pengembangan seperti Arduino IDE, PlatformIO, MicroPython, dsb.

Kelebihan ESP32:

  1. Memiliki koneksi Wi-Fi dan Bluetooth bawaan.
  2. Performa tinggi namun efisien dalam penggunaan daya.
  3. Banyak library dan dokumentasi pendukung.
  4. Kompatibel dengan berbagai sensor dan modul.
  5. Ideal untuk aplikasi IoT dan monitoring data.

Kekurangan ESP32:

  1. Konsumsi daya masih lebih tinggi dibandingkan ESP8266 (jika tidak dikonfigurasi dalam mode hemat daya).
  2. Beberapa versi board dapat memiliki konfigurasi pin yang berbeda, membingungkan bagi pemula.
  3. Memerlukan setup dan pemahaman dasar pemrograman mikrokontroler untuk digunakan secara optimal.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan teori yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa proyek Monitoring Data Sensor secara Real-Time via Google Sheets melibatkan integrasi dari beberapa komponen teknologi utama yang bekerja secara terkoordinasi.

Wokwi merupakan simulator berbasis web, yaitu sebuah aplikasi online yang memungkinkan pengguna untuk mensimulasikan (menjalankan tiruan) mikrokontroler seperti ESP32 tanpa menggunakan perangkat keras asli. Hal ini sangat membantu dalam proses pengujian program (debugging) dan pengembangan proyek Internet of Things (IoT, yaitu konsep menghubungkan perangkat elektronik ke internet untuk mengirim dan menerima data).

Google Sheets adalah aplikasi spreadsheet online dari Google, seperti Microsoft Excel namun berbasis cloud (penyimpanan daring). Aplikasi ini dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan data sensor secara real-time (langsung saat data diterima), dan dapat diakses kapan saja melalui internet.

Agar data dari perangkat seperti ESP32 dapat langsung masuk ke Google Sheets, digunakan Google Apps Script, yaitu platform pemrograman berbasis JavaScript milik Google. Dengan script ini, kita bisa membuat fungsi otomatis yang menangani permintaan HTTP (yaitu protokol komunikasi data melalui internet) dari ESP32 dan mencatat data tersebut ke dalam spreadsheet.

Sensor DHT22 adalah sensor digital yang dapat mengukur suhu dan kelembapan udara dengan tingkat akurasi yang tinggi. Karena data yang dihasilkan sudah berupa sinyal digital, sensor ini tidak memerlukan konversi analog, sehingga lebih praktis digunakan.

ESP32 adalah mikrokontroler (komputer kecil) yang sudah dilengkapi dengan koneksi Wi-Fi dan Bluetooth. Mikrokontroler ini berfungsi sebagai otak dari sistem yang membaca data dari sensor, memprosesnya, lalu mengirimkannya ke Google Apps Script menggunakan koneksi internet.

Secara keseluruhan, kombinasi dari kelima komponen ini menghasilkan sistem monitoring data suhu dan kelembapan yang praktis, hemat biaya, dan dapat diakses secara online. Meskipun masing-masing alat memiliki kekurangan, namun secara umum sistem ini sangat cocok untuk digunakan dalam proyek-proyek IoT skala kecil hingga menengah karena kemudahan implementasi dan fleksibilitas integrasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *