MOBILE HACKING 

MOBILE HACKING 

5.3.1 Definisi dan Konsep Dasar Mobile Hacking 

Mobile hacking adalah eksploitasi perangkat mobile dengan tujuan  memperoleh akses ilegal ke dalam sistem perangkat untuk mencuri data,  memata-matai, atau merusak perangkat itu sendiri atau praktik yang melibatkan  metode dan teknik untuk mendapatkan akses tidak sah ke perangkat mobile

seperti smartphone atau tablet. Konsep ini mencakup berbagai bentuk serangan  yang dapat dilakukan oleh peretas untuk mencuri data, mengakses informasi  pribadi, atau mengendalikan perangkat secara jarak jauh. Seiring dengan  meningkatnya ketergantungan pada perangkat mobile seperti smartphone dan  tablet, risiko terhadap ancaman mobile hacking pun semakin tinggi. Ponsel  pintar saat ini berfungsi lebih dari sekadar alat komunikasi; mereka digunakan  untuk perbankan, menyimpan data sensitif, dan mengakses sistem organisasi  atau perusahaan. 

Teknologi perangkat mobile terus berkembang dengan cepat, tetapi hal  ini juga disertai dengan peningkatan dalam hal kompleksitas ancaman  keamanan. Mobile hacking biasanya memanfaatkan kelemahan dalam  perangkat keras, perangkat lunak, atau pengguna perangkat yang kurang  memahami keamanan digital. Seiring dengan adopsi teknologi Internet of  Things yang juga sering dikendalikan lewat perangkat mobile, risiko yang  berkaitan dengan mobile hacking terus meningkat. 

5.3.1.1 Tenik – Teknik Dalam Mobile Hacking 

1. Malware injections merupakan metode di mana penyerang  menyusupkan perangkat lunak berbahaya ke dalam perangkat mobile.  Ini sering dilakukan melalui aplikasi berbahaya yang diunduh dari toko  aplikasi tidak resmi atau melalui file yang diunduh dari internet. Setelah  diinstal, malware dapat mengambil alih kontrol perangkat, mencuri data  sensitif, atau mengubah pengaturan perangkat. Contoh malware ini  termasuk trojan, ransomware, dan spyware. 

2. Zero-day exploits adalah memanfaatkan kerentanan perangkat atau  sistem operasi yang belum diketahui oleh pengembang. Karena  kerentanan ini belum ditangani, penyerang dapat menggunakannya  untuk mendapatkan akses tidak sah ke perangkat atau data. Teknik ini  sangat berbahaya karena sering kali sulit untuk dideteksi dan bisa  menyebabkan kerusakan besar sebelum ada patch atau solusi yang  tersedia.

3. Mobile-based phishing adalah taktik di mana peretas menggunakan  pesan teks (SMS), email, atau aplikasi palsu untuk menipu pengguna  agar memberikan informasi pribadi, seperti kata sandi atau nomor kartu  kredit. Misalnya, penyerang dapat mengirim pesan yang tampak resmi  dari bank yang meminta pengguna untuk mengklik tautan dan mengisi  detail akun mereka. Teknik ini memanfaatkan psikologi manusia untuk  menciptakan rasa urgensi atau ketakutan. 

4. Botnet adalah jaringan perangkat mobile yang telah diretas dan  dikendalikan secara jarak jauh oleh penyerang. Perangkat ini dapat  digunakan untuk melancarkan serangan Distributed Denial of Service (DDoS), di mana banyak perangkat secara bersamaan mengirimkan  permintaan ke server tertentu, membuatnya tidak dapat diakses. Selain  itu, botnets juga dapat digunakan untuk melakukan aktivitas jahat  lainnya, seperti penyebaran malware atau pengambilan data secara  massal. 

5.3.1.2 Tools Hacking Mobile 

1. Ngrok 

Ngrok merupakan alat yang digunakan untuk memaparkan  server lokal yang berada di belakang NAT dan firewall ke internet  publik melalui terowongan aman. Dengan menggunakan Ngrok, kita  dapat mengarahkan akses dari internet ke dalam jaringan lokal kita.  Informasi yang diberikan mencakup port tempat server web kita  melakukan proses penerimaan (listen). Ngrok beroperasi dengan cara  mengunduh dan mengeksekusi program di mesin pengguna, lalu  menyediakan port layanan jaringan, yang umumnya digunakan untuk 

server web. Port ini akan terkoneksi dengan layanan cloud Ngrok, yang  menerima lalu lintas melalui alamat publik, kemudian meneruskannya  ke proses Ngrok yang berjalan di mesin pengguna, dan akhirnya menuju  alamat lokal yang telah ditentukan. 

2. Storm-Breaker 

Strom-Breaker adalah alat rekayasa sosial yang kuat yang  memungkinkan peretas mengakses lokasi, kamera, mikrofon korban.  Namun, dengan menggunakan storm-breaker untuk beberapa pekerjaan  seperti melacak dan mencatat alamat IP, mengakses feed kamera,  mengakses feed mikrofon, dan mengetahui lokasi perangkat yang tepat 

3. Metasploit 

Metasploit merupakan framework yang digunakan untuk  keamanan dan hacker dalam menguji keamanan sistem melalui penetration testing, termasuk pada perangkat mobile. Dalam konteks  mobile hacking, Metasploit dapat digunakan untuk mengeksploitasi  perangkat Android dengan memanfaatkan celah keamanan pada  aplikasi atau sistem operasi, misalnya melalui pembuatan aplikasi  berbahaya (APK) yang mengandung payload seperti Meterpreter untuk  akses jarak jauh. Selain itu, Metasploit bisa melakukan serangan Man 

in-the-Middle (MitM) untuk mencegat dan memanipulasi data di 

jaringan WiFi, serta mengeksploitasi kerentanan aplikasi mobile.  Meskipun sering dikaitkan dengan hacking. Metasploit sebenarnya  berfungsi sebagai alat untuk membantu peneliti dan perusahaan  mengidentifikasi serta memperbaiki celah keamanan sebelum  disalahgunakan oleh pihak lain. 

5.3.2 Jenis Ancaman dan Serangan Mobile Hacking 

Ada banyak jenis ancaman yang dapat menargetkan perangkat mobile,  dan masing-masing ancaman tersebut bisa memiliki dampak yang merugikan  baik bagi pengguna pribadi maupun organisasi besar. Berikut adalah beberapa  ancaman paling umum yang dihadapi oleh perangkat mobile

1. Mobile malware adalah perangkat lunak berbahaya yang dirancang  khusus untuk menyerang perangkat mobile. Ancaman ini dapat  bervariasi dalam jenis dan fungsi, tetapi umumnya bertujuan untuk  melakukan aktivitas merugikan bagi pengguna, seperti mencuri data atau  merusak perangkat. 

2. Trajon adalah jenis malware yang berpura-pura sebagai aplikasi yang  sah. Namun, saat diunduh dan di-install, trojan dapat melakukan  aktivitas jahat di latar belakang, seperti mencuri data pengguna,  mengambil alih kontrol perangkat, atau menginstal perangkat lunak  berbahaya lainnya. Pengguna sering kali tidak menyadari bahwa mereka  telah terpengaruh hingga kerusakan sudah terjadi. 

3. Spyware adalah aplikasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi  pribadi pengguna tanpa sepengetahuan mereka. Ini termasuk data  sensitif seperti kata sandi, kontak, pesan, atau lokasi geografis. Spyware dapat membahayakan privasi pengguna dan digunakan untuk penipuan  identitas atau pencurian data. 

4. Ransomware adalah jenis malware yang mengenkripsi file di perangkat  pengguna dan meminta tebusan untuk membuka akses kembali.  Serangan ini bisa sangat merusak, terutama jika data penting dikunci dan  tidak ada cara untuk memulihkannya tanpa membayar tebusan.

5. Wi-Fi Hacking Perangkat mobile yang terhubung ke jaringan Wi-Fi  publik rentan terhadap serangan Man in the Middle (MitM). Dalam  serangan ini, peretas dapat memantau dan mengubah data yang  dikirimkan antara perangkat dan server. Pengguna yang tidak menyadari  kerentanan ini mungkin melanjutkan aktivitas sensitif, seperti perbankan  online, yang dapat disadap oleh peretas. 

6. Man in the Middle Attack Serangan ini terjadi ketika peretas mencegat  komunikasi antara dua pihak. Dalam konteks mobile, ini sering terjadi  melalui jaringan Wi-Fi publik atau koneksi bluetooth yang tidak aman.  Peretas dapat menyusup ke dalam komunikasi dan mengubah data yang  dikirim, membuat pengguna percaya bahwa mereka sedang  berkomunikasi dengan pihak yang sah. 

7. Phishing dan SMiShing di perangkat mobile sering dilakukan melalui  pesan teks (SMiShing) atau email yang tampak resmi tetapi sebenarnya  berisi tautan berbahaya. Jika pengguna mengklik tautan tersebut, mereka  akan diarahkan ke situs web palsu yang dirancang untuk mencuri  informasi login atau data pribadi lainnya. Taktik ini memanfaatkan  kepercayaan pengguna dan tampilan otoritas. 

8. Exploit Operating System, Kerentanan dalam sistem operasi seperti  Android atau iOS dapat menjadi pintu masuk bagi peretas. Misalnya, bug  dalam kode dapat memungkinkan peretas untuk menjalankan kode  berbahaya di perangkat tanpa sepengetahuan pengguna. Banyak  eksploitasi yang dieksploitasi dalam serangan besar berasal dari sistem  operasi yang belum diperbarui dengan patch keamanan terbaru. 

9. SIM swapping adalah teknik di mana peretas memanipulasi penyedia  layanan telekomunikasi untuk memindahkan nomor telepon korban ke  kartu SIM yang mereka kendalikan. Setelah mendapatkan kontrol atas  nomor telepon tersebut, peretas dapat mengakses akun yang  menggunakan autentikasi dua faktor berbasis SMS, seperti akun bank  atau akun media sosial, sehingga meningkatkan risiko pencurian  identitas.

5.3.3 Cara Mencegah Serangan Mobile Hacking 

Untuk melindungi perangkat mobile dari ancaman hacking, pengguna  perlu menerapkan berbagai langkah keamanan yang dirancang untuk mencegah  atau memitigasi dampak serangan. Beberapa langkah pencegahan penting  meliputi: 

1. Menginstal Aplikasi dari Sumber Resmi: Hanya mengunduh aplikasi dari  toko aplikasi resmi seperti Google Play Store dan Apple App Store.  Aplikasi yang diunduh dari sumber tidak tepercaya lebih cenderung  mengandung malware atau aplikasi berbahaya. 

2. Perbarui Sistem dan Aplikasi Secara Rutin: Pengembang sistem operasi  dan aplikasi sering kali merilis pembaruan yang mencakup patch  keamanan untuk memperbaiki kerentanan yang ditemukan. Pengguna  harus memastikan bahwa perangkat mereka selalu diperbarui untuk  melindungi dari exploit terbaru. 

3. Gunakan VPN Saat Mengakses Jaringan Publik: Virtual Private Network (VPN) mengenkripsi lalu lintas internet pengguna, yang membuatnya  lebih sulit bagi peretas untuk melakukan serangan Man in the Middle (MitM) saat perangkat terhubung ke Wi-Fi publik. 

4. Aktifkan Fitur Autentikasi Dua Faktor (2FA): Autentikasi dua faktor  memberikan lapisan perlindungan tambahan terhadap akun penting  dengan meminta kode verifikasi tambahan setelah pengguna memasukkan  kata sandi. Kode ini biasanya dikirim melalui SMS, email, atau aplikasi  autentikasi seperti Google Authenticator

5. Nonaktifkan Wi-Fi, bluetooth, dan NFC Ketika Tidak Digunakan:  Beberapa serangan, terutama yang melibatkan bluetooth dan Wi-Fi, dapat  dilakukan pada perangkat mobile yang memiliki koneksi tersebut aktif  secara terus-menerus. Sebaiknya matikan koneksi yang tidak sedang  digunakan untuk mengurangi peluang serangan. 

6. Gunakan Aplikasi Keamanan Mobile: Aplikasi keamanan mobile, seperti  anti-virus dan anti-malware, bisa membantu mendeteksi dan mencegah  instalasi malware pada perangkat. Aplikasi ini juga memberikan  perlindungan terhadap phishing dan situs web berbahaya.

5.3.4 Solusi Serangan Mobile Hacking 

Jika perangkat mobile diretas atau dicurigai telah disusupi, ada beberapa  langkah yang bisa diambil untuk mengamankan kembali perangkat dan  mengurangi kerugian: 

1. Hapus Aplikasi yang Mencurigakan: Jika perangkat menunjukkan  perilaku aneh atau aplikasi yang mencurigakan diidentifikasi, segera  hapus aplikasi tersebut. Aplikasi yang jarang digunakan juga sebaiknya  dihapus untuk mengurangi risiko serangan di masa depan. 

2. Reset Pengaturan Pabrik: Pada kasus di mana perangkat sudah tidak dapat  diakses atau perangkat lunak jahat terlalu sulit untuk dihapus, mereset  perangkat ke pengaturan pabrik bisa menjadi solusi terakhir. Namun,  tindakan ini akan menghapus semua data di perangkat, jadi pastikan untuk  melakukan backup terlebih dahulu. 

3. Mengubah Kata Sandi dan Kredensial Penting: Setelah serangan, penting  untuk segera mengubah semua kata sandi yang terkait dengan perangkat  dan aplikasi penting, seperti akun email, akun media sosial, dan akun  perbankan. 

4. Laporkan kepada Pihak Berwenang atau Penyedia Layanan: Jika serangan  melibatkan informasi pribadi yang penting, segera laporkan insiden  tersebut kepada penyedia layanan terkait, seperti bank atau penyedia  layanan telekomunikasi. Jika serangan melibatkan pencurian identitas,  hubungi pihak berwenang setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *