
KRIPTOGRAFI DAN TEKNIK PENYAMARAN INFORNMASI
8.3 Dasar Teori
8.3.1 Pengertian Kriptografi
Kata kriptografi atau cryptography diketahui berasal dari Bahasa Yunani, kripto dan graphia. Dimana kripto memiliki arti menyembunyikan, sementara graphia berarti tulisan. Sehingga bisa dijabarkan kriptografi merupakan ilmu yang memperlajari teknik-teknik matematika yang berkaitan dengan aspek keamanan informasi.
8.3.2 Sejarah Kriptografi
Kriptografi menurut catatan Sejarah telah eksis sejak masa kejayaan Yunani atau kurang lebih sekitar tahun 400 SM. Alat yang digunakan untuk membuat pesan tersembunyi di Yunani pada waktu itu disebut Scytale. Scytale berbentuk Batangan silinder dengan kombinasi 18 huruf.
Pada masa Romawi, di bawah kekuasaan Julius Caesar, penggunaan kriptografi semakin intens karena pertimbangan stabilitas negara. Meski teknik yang digunakan tidak serumit Yunani, namun untuk memahami pesan kriptografi dari masa Romawi terbilang cukup sulit untuk dikerjakan.
8.3.3 Tujuan Kriptografi
Tujuan utama penggunaan kriptografi antara lain:
1. Kerahasiaan
Hal ini berkaitan dengan layanan yang berfungsi menjaga isi informasi. Kerahasiaan diberlakukan kepada siapa saja. Tentunya selain kepada pengguna yang mempunyai kunci rahasia atau otoritas untuk membuka informasi tekait menggunakan kata sandi yang tepat.
2. Integritas Data
Tujuan kedua berkaitan dengan penjagaan perubahan data yang tidak sah. Misalnya dari upaya tidak bertanggung jawab pada hacker. Dibutuhkan suatu sistem yang dapat mendeteksi manipulasi data yang dilakukan pihak lain seperlu menjaga integritas data. Adapun manipulasi yang dimaksud bisa berupa penyisipan, penghapusan, hingga pensubtitusian data lain ke dalam data asli.
3. Autentikasi
Autentikasi dalam kriptografi berkaitan dengan pengenalan atau identifikasi, baik yang berlangsung utnuk kesatuan sistem atau hanya informasi itu sendiri. Dalam hal ini dua belah pihak yang saling berkomunikasi wajib memperkenalkan diri. Adapun info diri yang diberikan via kanal harus diautentikasi kebenarannya. Yakni mencakup isi data, waktu pengiriman, dan lain sebagainya.
4. Non Repudiasi
Tujuan keempat adalah non repudiasi atay yang populer juga disebut anti penyangkalan. Merupakan suatu upaya seperlu mencegah adanya penyangkalan akan pengiriman informasi oleh pihak yang mengirim. Penyangkalan bahwa pesan berasal dari pihak yang ditunjuk.
8.3.4 Teknik Kriptografi
Algoritma kriptografi dibedakan menjadi beberapa teknik yaitu:
1. Simetris
Kriptografi simetris adalah salah satu algoritma kriptografi kunci simetris dan kripto polyalphabetic. Kriptografi jenis ini populer juga disebut dengan hill cipher atau kode hill. Jenis kriptografi ini diciptakan oleh Lester S.Hil sekitar tahun 1929 yang mana dipecahkan meski menggunakan teknik analisis frekuensi.
2. Asimetris
Jenis kriptografi berikutnya kriptografi asimetris yang memanfaatkan 2 jenis kunci. Algoritma kunci publik ini menggunakan kunci publik dan juga kunci rahasia. Kedua kunci jenis kunci tersebut memiliki fungsi berbeda seperti kunci publik untuk mengenkripsi pesan. Kunci publik bersifat global yang tidak dirahasiakan sehingga bisa dilihat oleh siapa saja. Sementara kunci rahasia termasuk kunci yang dirahasiakan yang hanya bisa dilihat oleh orang tertentu saja.
3. Hybrid
Kriptografi hybrid adalah jenis kriptografi yang dibuat seperlu mengatasi adanya trade off antara kecepatan dan kenyamanan. Dimana diketahui semakin aman, sejatinya semakin tidak nyaman. Sebaliknya semakin nyamamn, maka sebenarnya sistem semakin tidak aman.
Selain kriptografi simetris, asimetris, dan hybrid tedapat juga teknik kriptografi lain yang digunakan dalam keamanan jaringan, yaitu:
1. Encoding
Encoding adalah proses mengubah data menjadi format lain dengan menggunakan aturan tertentu, tetapi tidak ada upaya untuk mengamankan data. Ini lebih merupakan teknik representasi ulang data daripada metode keamanan sejati.
Contoh encoding termasuk Base64 encoding, URL encoding, dan HTML encoding. Ini sering digunakan untuk mengubah data biner menjadi format teknis yang dapat ditransmisikan melalui protokol teks.
2. Encryption (Enkripsi)
Encryption adalah proses mengubah data menjadi bentuk yang tidak dapat dibaca atau sulit dipahami, yang disebut ciphertext, dengan menggunakan algoritma enkripsi dan kunci enkripsi tertentu. Tujuan enkripsi adalah melindungi kerahasiaan data dan mencegah akses yang tidak sah. Hanya pihak yang memiliki kunci enkripsi yang benar yang dapat mendekripsi dan mengembalikan data ke bentuk aslinya.
Enkripsi dapat menggunakan kunci simetris (kunci yang sama digunakan untuk enkripsi dan dekripsi) atau kunci asimetris (pasangan kunci publik dan pribadi) tergantung pada algoritma yang digunakan. Contoh algoritma enkripsi termasuk AES, RSA, dan DES.
3. Dekripsi
Dekripsi adalah kebalikan dari enkripsi. Ini adalah proses mengubah data yang lebih dienkripsi kembali ke dalam format asli atau terbaca. Proses dekripsi memerlukan penggunaan kunci dekripsi yang sesuai yang cocok dengan kunci enkripsi yang digunakan saat proses enkripsi.
Dekripsi dilakukan oleh penerima atau pemegang kunci dekripsi yang sah untuk mengakses data yang telah dienkripsi. Proses ini mengembalikan data ke bentuk semula sehingga dapat dibaca dan dimengerti.
4. Hashing (Pengacakan)
Hashing adalah proses mengonversi data (plaintext) menjadi nilai hash yang tetap penjang dan unik menggunakan fungsi hash. Hash digunakan untuk menguji integritas data dan memverifikasi tanda tangan digital. Nilai hash yang dihasilkan akan berbeda jika ada perubahan pada data input. Proses hashing bersifat satu arah (one-way), artinya tidak dapat mengembalikan nilai hash ke bentuk plaintext aslinya.
Contoh fungsi hash termasuk SHA-256, MD5, dan SHA-1. Penggunaan yang tepat dari fungsi hash sangat penting untuk keamanan dan integritas data.
8.3.5 Steganografi
Teknik penyamaran informasi dalam keamanan jaringan sering disebut “Steganografi”. Steganografi adalah suatu metode atau teknik yang digunakan untuk menyembunyikan informasi dalam data atau media lain secara tidak terlihat atau tidak terdeteksi oleh mata manusia atau alat deteksi biasa. Dalam konteks keamanan jaringan, Steganografi dapat digunakan untuk menyembunyikan data sensitif dalam file gambar, audio, atau bahkan teks biasa tanpa menarik perhatian yang tidak sah. Dengan menggunakan Steganografi, pengguna dapat menyisipkan pesan rahasia ke dalam gambar, audio, atau bahkan video, dan kemudian mengirimkannya melalui jaringan tanpa membuatnya terlihat bagi pihak yang tidak berhak. Penerima yang sah kemudian dapat mengungkap pesan tersebut dengan menggunakan kunci atau alat dekripsi yang sesuai. Steganografi adalah salah satu alat yang digunakan dalam upaya untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan komunikasi dalam dunia digital dan sering digunakan bersamaan dengan enkripsi untuk melindungi informasi yang dikirimkan melalui jaringan.
8.3.6 Teknik Steganografi
Ada beberapa teknik penyamaran informasi atau Steganografi yang digunakan untuk menyembunyikan data dalam media atau komunikasi yang berbeda. Berikut beberapa teknik penyamaran informasi yang umum digunakan:
1. Steganografi Gambar: Teknik ini melibatkan penyisipan data dalam file gambar. Data rahasia dapat disembunyikan dalam piksel-piksel gambar atau bahkan dalam struktur metadata gambar. Teknik ini mencakup metode seperti LSB (Least Significant Bit) Steganografi, di mana data disisipkan pada bit paling tidak signifikan dalam gambar.
2. Steganografi Audio: Dalam Steganografi audio, data rahasia disisipkan dalam file audio, seperti mp3 atau WAV, dengan mengubah amplitudo atau frekuensi suara. Ini dapat dilakukan dengan mengganti sampel suara yang kurang signifikan.
3. Steganografi Video: Serupa dengan Steganografi gambar, teknik ini digunakan untuk menyembunyikan data dalam file video. Data dapat disisipkan dalam bingkai video atau struktur metadata.
4. Steganografi Teks: Dalam Steganografi teks, data rahasia disisipkan dalam teks biasa dengan cara mengubah tampilan atau format teks, seperti menggunakan spasi ekstra, penggantian karakter, atau metode lainnya.
5. Steganografi File: Teknik ini melibatkan menyisipkan data rahasia dalam file lain, seperti dokumen PDF, file Word, atau file lainnya. Data rahasia dapat disisipkan dalam metadata file atau sebagai tambahan dalam konten file.
6. SteganografiJaringan: Ini melibatkan penyisipan data rahasia dalam lalu lintas jaringan. Teknik ini digunakan dalam komunikasi melalui jaringan untuk menyembunyikan pesan dari pihak yang tidak berhak.
7. Steganografi Pesan Tersembunyi: Dalam teknik ini, pesan tersembunyi disisipkan dalam pesan yang tampaknya tidak mencurigakan. Misalnya, mengganti kata-kata tertentu dalam teks dengan sinonimnya yang memiliki makna yang sama.
8. Steganografi File Sistem: Data rahasia dapat disembunyikan dalam struktur file sistem, seperti file sistem operasi atau file konfigurasi. 9. Steganografi dalam Email atau Dokumen Web: Teknik ini melibatkan penyisipan data rahasia dalam email atau dokumen web, seringkali dengan menggunakan font atau warna teks yang hampir tidak terlihat. 10. Steganografi dalam QR Code: QR code dapat digunakan untuk menyembunyikan data tambahan dalam gambar kode QR tanpa mengganggu fungsi utamanya.
8.3.7 Steghide
Steghide adalah salah satu tool yang berfungsi untuk belajar Steganografi menggunakan command line di terminal Linux. Steghide merupakan program Steganografi yang menyembunyikan bit-bit suatu file data di beberapa bit paling tidak signifikan dari file lain sedemikian rupa sehingga keberadaan file data tersebut tidak dapat dilihat dan tidak dapat dibuktikan. Steghide dirancang secara portable dan dapat dikonfigurasi serta memiliki fitur penyembunyian data dalam file bmp, jpeg, wav dan file au, enkripsi blowfish, MD5 hashing untuk paraphrase ke blowfish key, dan distribusi bit tersembunyi secara pseudo
random dalam sebuah data kontainer. Setghide juga sangat berguna dalam investigasi digital forensik.
8.3.8 Jenis-Jenis Serangan terhadap Kriptografi
Walaupun kriptografi bertujuan melindungi data, tetap ada kemungkinan diserang. Berikut adalah beberapa jenis serangan yang umum terhadap sistem kriptografi:
- Brute Force Attack
Penyerang mencoba semua kemungkinan kombinasi kunci sampai menemukan yang benar. Meskipun memakan waktu lama, serangan ini bisa berhasil jika kunci terlalu pendek atau sistem tidak kuat. - Cryptanalysis (Analisis Kripto)
Teknik ini melibatkan penggunaan metode statistik dan matematika untuk menemukan kelemahan dalam algoritma kriptografi, seperti menganalisis frekuensi huruf dalam ciphertext. - Man-in-the-Middle Attack (MitM)
Dalam serangan ini, penyerang mencegat dan mungkin mengubah komunikasi antara dua pihak tanpa diketahui. Sering terjadi pada koneksi yang tidak terenkripsi atau tidak terautentikasi. - Replay Attack
Serangan ini dilakukan dengan cara mengirim ulang (replay) komunikasi yang sudah terjadi untuk menipu sistem, contohnya dalam otentikasi jaringan. - Chosen Plaintext/Ciphertext Attack
Penyerang dapat memilih plaintext/ciphertext dan mendapatkan pasangan hasil enkripsi/dekripsi untuk menganalisis sistem dan menemukan kunci rahasia.
8.3.9 Perbedaan antara Kriptografi dan Steganografi
| Aspek | Kriptografi | Steganografi |
| Tujuan | Menyandikan pesan agar tidak terbaca pihak ketiga | Menyembunyikan keberadaan pesan |
| Deteksi | Pesan terenkripsi terlihat jelas tapi tidak bisa dibaca | Pesan tersembunyi sulit dideteksi |
| Fokus | Keamanan isi pesan | Keamanan eksistensi pesan |
| Teknik | AES, RSA, Blowfish, dll. | LSB, Metadata Hiding, Echo Hiding, dll. |
| Kelemahan | Jika diketahui ada pesan, bisa menjadi target brute-force | Jika ditemukan metode penyembunyian, pesan mudah diambil |