Ketahanan Pangan dan Energi: Strategi Indonesia di Tengah Krisis Global

Ketahanan Pangan dan Energi: Strategi Indonesia di Tengah Krisis Global

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia dihadapkan pada serangkaian krisis global yang saling berkaitan — pandemi COVID-19, perang Rusia-Ukraina, perubahan iklim, dan gejolak ekonomi dunia. Situasi ini memicu gangguan rantai pasok, lonjakan harga energi dan pangan, serta inflasi global yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Di tengah tekanan tersebut, isu ketahanan pangan dan energi menjadi prioritas utama dalam agenda nasional. Indonesia sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana memastikan setiap warganya mendapatkan akses terhadap pangan dan energi secara berkelanjutan?

Artikel ini akan mengulas kondisi ketahanan pangan dan energi Indonesia, tantangan yang dihadapi, serta strategi yang sedang dan perlu dilakukan agar Indonesia mampu bertahan dan bahkan tumbuh di tengah krisis global yang terus berubah.


1. Ketahanan Pangan: Antara Potensi dan Ancaman

a. Gambaran Umum

Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sumber daya alam melimpah. Sektor pertanian, perikanan, dan peternakan menjadi tulang punggung ketersediaan pangan. Namun, dalam praktiknya, ketergantungan pada impor beberapa komoditas masih tinggi, seperti gandum, kedelai, dan bawang putih.

b. Tantangan Ketahanan Pangan

Beberapa tantangan utama yang dihadapi Indonesia antara lain:

  • Konversi Lahan Pertanian: Alih fungsi lahan menjadi perumahan dan industri menyebabkan penyusutan lahan produktif setiap tahun.
  • Perubahan Iklim: Musim yang tidak menentu, banjir, dan kekeringan mengganggu pola tanam dan produktivitas pertanian.
  • Ketergantungan Impor: Ketergantungan terhadap komoditas impor menyebabkan harga pangan domestik sangat rentan terhadap gejolak global.
  • Distribusi dan Rantai Pasok: Infrastruktur logistik yang belum merata membuat distribusi hasil pertanian tidak efisien, khususnya di wilayah timur Indonesia.
  • Kesejahteraan Petani: Sebagian besar petani masih tergolong miskin, dengan akses terbatas terhadap teknologi, pembiayaan, dan pasar.

c. Upaya Pemerintah

Untuk meningkatkan ketahanan pangan, pemerintah telah meluncurkan berbagai program, seperti:

  • Food Estate: Pengembangan kawasan pertanian skala besar di Kalimantan Tengah dan Sumatra Utara.
  • Kartu Tani dan Subsidi Tepat Sasaran: Digitalisasi subsidi untuk pupuk agar lebih transparan.
  • Diversifikasi Pangan Lokal: Penguatan konsumsi pangan lokal non-beras seperti sagu, sorgum, dan jagung.

2. Ketahanan Energi: Menuju Kemandirian dan Energi Hijau

a. Ketergantungan pada Energi Fosil

Meski Indonesia memiliki cadangan energi fosil cukup besar, seperti batu bara dan gas alam, negara ini masih sangat bergantung pada energi tersebut untuk pembangkitan listrik dan industri. Ketika harga energi global naik, Indonesia ikut terdampak meski sebagai produsen energi.

b. Tantangan Energi Nasional

  • Ketergantungan Impor BBM: Meski kaya sumber daya, kilang minyak domestik terbatas, menyebabkan Indonesia mengimpor sebagian besar BBM.
  • Subsidi Energi: Subsidi bahan bakar masih membebani APBN, dan sering kali tidak tepat sasaran.
  • Akses Energi di Daerah Terpencil: Masih ada daerah yang belum menikmati listrik 24 jam.
  • Peralihan ke Energi Baru dan Terbarukan (EBT): Target bauran EBT 23% pada 2025 masih jauh dari tercapai.

c. Strategi Pemerintah

  • Pengembangan EBT: Energi surya, air, bayu (angin), dan bioenergi mulai digarap lebih serius.
  • Mandatori B35: Campuran biodiesel 35% dalam solar untuk mengurangi impor minyak.
  • Transisi Energi: Peta jalan transisi energi disusun bersama lembaga internasional, termasuk komitmen Net Zero Emission pada 2060.
  • Program Listrik Desa: PLN dan ESDM terus memperluas jaringan listrik ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

3. Krisis Global dan Dampaknya bagi Indonesia

a. Pandemi COVID-19

Pandemi membuktikan bahwa rantai pasok global sangat rentan. Impor bahan pangan dan energi terganggu, dan negara-negara mulai memprioritaskan produksi dalam negeri.

b. Perang Rusia-Ukraina

Konflik ini menyebabkan lonjakan harga gandum dan minyak global, memukul harga pangan dan energi di seluruh dunia. Sebagai importir gandum, Indonesia harus menyesuaikan kebijakan logistik dan pangan lokal.

c. Perubahan Iklim

Banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem makin sering terjadi, menyebabkan ketidakpastian hasil pertanian dan menurunkan daya dukung sumber daya alam.


4. Strategi Nasional: Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi

a. Mendorong Produksi Dalam Negeri

Kebijakan penguatan produksi domestik menjadi kunci utama:

  • Swadaya pangan: Mendorong petani lokal meningkatkan produktivitas lewat teknologi pertanian presisi dan benih unggul.
  • Program ketahanan protein: Pemerintah mengembangkan peternakan mandiri dan akuakultur.
  • Pembangunan kilang minyak baru dan energi terbarukan: Untuk mengurangi ketergantungan impor energi.

b. Teknologi dan Inovasi

Pemanfaatan teknologi seperti:

  • IOT dan drone dalam pertanian presisi
  • Sistem irigasi pintar dan irigasi tetes
  • Big data untuk prediksi cuaca dan hasil panen
  • Energi surya atap untuk rumah tangga dan UMKM

c. Penguatan Kelembagaan dan Kebijakan

  • Integrasi antara kementerian pertanian, perdagangan, dan ESDM
  • Reformasi subsidi agar tepat sasaran
  • Kebijakan satu data pangan dan energi untuk perencanaan lebih akurat

d. Pemberdayaan Masyarakat

Ketahanan pangan dan energi tidak cukup hanya dari pemerintah. Masyarakat, komunitas, dan sektor swasta harus:

  • Mengembangkan pertanian urban (urban farming)
  • Mengelola limbah menjadi energi
  • Mengedukasi pola konsumsi berkelanjutan

5. Menuju Kemandirian Pangan dan Energi: Harapan 2025

Dengan berbagai kebijakan dan program yang sedang berjalan, beberapa capaian positif sudah terlihat:

  • Produksi beras nasional kembali surplus pada 2023.
  • Realisasi campuran biodiesel B35 mulai mengurangi impor BBM.
  • Jumlah desa berlistrik terus meningkat, mencapai lebih dari 99% pada 2024.
  • Penggunaan EBT, terutama PLTS (pembangkit listrik tenaga surya), mulai diterapkan di sektor rumah tangga.

Namun, capaian ini belum merata dan masih menghadapi banyak tantangan teknis, sosial, dan ekonomi.


6. Kolaborasi Adalah Kunci

Membangun ketahanan pangan dan energi bukan tugas satu pihak. Butuh kolaborasi lintas sektor dan pemangku kepentingan:

  • Pemerintah pusat dan daerah: Sinkronisasi kebijakan dan pendanaan.
  • Swasta: Investasi pada industri hilir dan teknologi EBT.
  • Akademisi dan peneliti: Riset untuk inovasi pertanian dan energi.
  • Masyarakat: Pola konsumsi yang hemat dan ramah lingkungan.

Kesimpulan

Krisis global telah mempertegas pentingnya kemandirian dalam urusan paling dasar: pangan dan energi. Indonesia memiliki segala potensi — sumber daya alam, demografi, dan teknologi — untuk berdiri tegak menghadapi ketidakpastian global.

Namun, tanpa strategi yang terintegrasi, kolaborasi erat, dan perubahan pola pikir kolektif, potensi itu bisa berubah menjadi beban.

Menuju 2025, langkah-langkah konkret Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi akan menentukan masa depannya: apakah menjadi bangsa yang tangguh, mandiri, dan berdaulat, atau terus tergantung pada gelombang global yang tak menentu.

Refrensi : https://setkab.go.id/empat-fokus-utama-pemerintah-ketahanan-pangan-energi-hilirisasi-dan-gizi-gratis/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *