{"id":31808,"date":"2025-06-19T12:59:00","date_gmt":"2025-06-19T05:59:00","guid":{"rendered":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/?p=31808"},"modified":"2025-06-19T12:59:01","modified_gmt":"2025-06-19T05:59:01","slug":"protokol-redundansi-jaringan-membangun-jaringan-yang-kuat-dan-selalu-tersedia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/protokol-redundansi-jaringan-membangun-jaringan-yang-kuat-dan-selalu-tersedia\/","title":{"rendered":"Protokol Redundansi Jaringan: Membangun Jaringan yang Kuat dan Selalu Tersedia"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/image-548.png?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"512\" src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/image-548.png?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-31813\" srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/image-548.png?lossy=1&strip=1&webp=1 1024w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/image-548-300x150.png?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/image-548-768x384.png?lossy=1&strip=1&webp=1 768w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/image-548-255x128.png?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p>Di era digital ini, kita sangat bergantung pada koneksi internet. Jadi, kalau jaringan sampai mati (<em>downtime<\/em>), itu bisa menyebabkan kerugian finansial yang besar dan mengganggu operasional bisnis secara signifikan. Makanya, punya strategi redundansi jaringan itu penting banget dalam merancang infrastruktur IT modern. Redundansi jaringan bukan cuma jadi cadangan saat ada masalah, tapi juga memastikan layanan tetap berjalan optimal bagi pengguna.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Redundansi Jaringan?<\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Redundansi jaringan<\/strong> adalah cara merancang sistem jaringan dengan menyediakan jalur atau komponen cadangan. Tujuannya? Agar layanan tetap berjalan kalau komponen utama rusak atau gagal berfungsi. Konsep ini didasari pemikiran bahwa setiap bagian dalam jaringan bisa saja rusak, jadi kita perlu punya mekanisme cadangan yang bisa langsung mengambil alih secara otomatis.<\/p>\n\n\n\n<p>Redundansi bisa diterapkan di berbagai tingkatan dalam jaringan. Mulai dari cadangan fisik (seperti kabel dan perangkat keras) sampai cadangan logis (seperti jalur <em>routing<\/em> dan protokol <em>failover<\/em>). Tujuan utamanya adalah mencapai ketersediaan tinggi (<em>high availability<\/em>), yaitu kemampuan sistem untuk tetap beroperasi dengan waktu mati (<em>downtime<\/em>) minimal, bahkan saat ada komponen yang gagal.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Jenis-Jenis Redundansi dalam Jaringan<\/h2>\n\n\n\n<p>Redundansi bisa dibagi jadi dua jenis utama:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Redundansi Fisik<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini berarti kita menduplikasi komponen perangkat keras seperti <em>switch<\/em>, <em>router<\/em>, kabel, dan sumber daya listrik (<em>power supply<\/em>). Contohnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong><em>Dual Homing<\/em><\/strong>: Menghubungkan satu perangkat (misalnya <em>server<\/em>) ke dua <em>switch<\/em> yang berbeda. Jadi, kalau satu <em>switch<\/em> rusak, koneksi tetap ada. Ini efektif untuk <em>server<\/em> penting.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Link Aggregation<\/em><\/strong>: Menggabungkan beberapa kabel fisik menjadi satu koneksi logis. Tujuannya untuk meningkatkan kecepatan data (<em>bandwidth<\/em>) dan menyediakan cadangan. Protokol seperti LACP (Link Aggregation Control Protocol) memungkinkan pembagian beban (<em>load balancing<\/em>) dan <em>failover<\/em> otomatis.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Redundant Power Supply<\/em><\/strong>: Menggunakan lebih dari satu sumber daya listrik dan UPS (<em>Uninterruptible Power Supply<\/em>) agar perangkat jaringan tetap menyala meski listrik utama padam.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Redundansi Logis<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini berkaitan dengan protokol dan algoritma yang mengatur jalur data alternatif dan peralihan otomatis (<em>failover<\/em>) saat terjadi kegagalan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong><em>Path Redundancy<\/em><\/strong>: Menyediakan banyak jalur antara pengirim dan penerima data. Tujuannya, data tetap bisa sampai tujuan meskipun satu jalur terputus.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Protocol Redundancy<\/em><\/strong>: Menggunakan protokol khusus yang secara otomatis mendeteksi kegagalan dan beralih ke jalur cadangan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Protokol Redundansi Utama yang Penting<\/h2>\n\n\n\n<p>Ada beberapa protokol kunci yang sering digunakan untuk redundansi:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">a. Spanning Tree Protocol (STP) dan Variannya<\/h3>\n\n\n\n<p><strong>STP<\/strong> adalah protokol dasar untuk jaringan Ethernet. Fungsi utamanya adalah <strong>mencegah terjadinya <em>loop<\/em> (putaran data tak berujung)<\/strong> dalam jaringan, sambil tetap menyediakan jalur cadangan yang bisa diaktifkan jika jalur utama gagal.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>IEEE 802.1D STP<\/strong>: Versi asli STP yang cukup lambat dalam beralih (sekitar 30-50 detik).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Rapid Spanning Tree Protocol (RSTP) &#8211; IEEE 802.1w<\/strong>: Perbaikan dari STP yang jauh lebih cepat dalam beralih (kurang dari 6 detik).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Multiple Spanning Tree Protocol (MSTP) &#8211; IEEE 802.1s<\/strong>: Memungkinkan pembagian beban dengan membuat beberapa <em>spanning tree<\/em> untuk VLAN (jaringan virtual) yang berbeda, agar penggunaan jalur cadangan lebih optimal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">b. Hot Standby Router Protocol (HSRP)<\/h3>\n\n\n\n<p>HSRP adalah protokol milik Cisco yang menyediakan cadangan <em>gateway<\/em> (<em>router<\/em> tempat perangkat terhubung ke jaringan luar) untuk perangkat akhir (<em>end devices<\/em>). Dalam HSRP, beberapa <em>router<\/em> dalam satu jaringan kecil (<em>subnet<\/em>) membentuk grup. Satu <em>router<\/em> menjadi <em>active router<\/em> (aktif) dan yang lain menjadi <em>standby router<\/em> (siaga).<\/p>\n\n\n\n<p>Jika <em>active router<\/em> gagal, <em>standby router<\/em> akan otomatis mengambil alih fungsi <em>gateway<\/em> tanpa perlu mengubah pengaturan pada perangkat pengguna. HSRP menggunakan alamat IP virtual dan alamat MAC virtual yang dibagikan antar <em>router<\/em> dalam grup.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">c. Virtual Router Redundancy Protocol (VRRP)<\/h3>\n\n\n\n<p><strong>VRRP<\/strong> adalah protokol standar industri (RFC 3768) yang fungsinya mirip dengan HSRP. VRRP memungkinkan beberapa <em>router<\/em> bekerja sama untuk menyediakan <em>default gateway<\/em> yang selalu tersedia untuk <em>subnet<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Keunggulan VRRP dibanding HSRP adalah sifatnya yang terbuka (<em>open standard<\/em>), jadi bisa diimplementasikan pada perangkat dari <em>vendor<\/em> berbeda. VRRP juga punya beban kerja yang lebih rendah dan waktu peralihan yang lebih cepat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">d. Gateway Load Balancing Protocol (GLBP)<\/h3>\n\n\n\n<p>GLBP adalah protokol Cisco yang tidak hanya menyediakan redundansi, tapi juga pembagian beban (<em>load balancing<\/em>). Berbeda dengan HSRP dan VRRP yang hanya memakai satu <em>router<\/em> aktif, GLBP memungkinkan semua <em>router<\/em> dalam grup untuk aktif secara bersamaan dan berbagi beban <em>traffic<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>GLBP menggunakan konsep Active Virtual Gateway (AVG) yang bertanggung jawab menjawab permintaan ARP dan mendistribusikan alamat MAC virtual ke <em>router<\/em> lain dalam grup yang berperan sebagai Active Virtual Forwarder (AVF).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">e. Protokol First Hop Redundancy Lainnya<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong><em>Common Address Redundancy Protocol<\/em> (CARP)<\/strong>: Protokol yang digunakan di sistem BSD, menyediakan <em>failover<\/em> untuk <em>gateway<\/em> dengan menggunakan alamat IP virtual bersama.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Keepalived<\/em><\/strong>: Implementasi <em>open source<\/em> yang menyediakan fungsi VRRP untuk sistem Linux, sering digunakan dalam lingkungan <em>load balancer<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Redundansi dalam Protokol <em>Routing<\/em><\/h2>\n\n\n\n<p>Selain protokol di atas, protokol <em>routing<\/em> juga punya kemampuan redundansi bawaan:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">a. Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP)<\/h3>\n\n\n\n<p>EIGRP menyediakan redundansi dengan kemampuannya menjaga banyak jalur ke tujuan yang sama. Protokol ini menggunakan jalur cadangan (<em>feasible successor routes<\/em>) yang bisa langsung diaktifkan saat jalur utama gagal, tanpa perlu perhitungan ulang. EIGRP juga mendukung pembagian beban dengan biaya tidak sama (<em>unequal cost load balancing<\/em>), memungkinkan <em>traffic<\/em> dibagi ke banyak jalur dengan biaya berbeda.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">b. Open Shortest Path First (OSPF)<\/h3>\n\n\n\n<p>OSPF secara alami mendukung redundansi dengan kemampuannya menghitung banyak jalur dengan biaya yang sama ke tujuan. Ketika jalur utama gagal, OSPF bisa dengan cepat melakukan penghitungan ulang (<em>reconvergence<\/em>) dan menggunakan jalur alternatif. OSPF juga mendukung desain berbasis area yang memungkinkan redundansi hierarkis.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">c. Border Gateway Protocol (BGP)<\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam konteks redundansi koneksi WAN (jaringan area luas) dan internet, BGP menyediakan redundansi jalur melalui banyak sistem otonom (<em>autonomous systems<\/em>). BGP bisa diatur untuk menggunakan banyak koneksi ISP dengan <em>failover<\/em> otomatis jika salah satu koneksi bermasalah.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Teknologi Redundansi Modern<\/h2>\n\n\n\n<p>Beberapa teknologi redundansi yang lebih baru dan canggih:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Virtual Switching System (VSS) dan StackWise:VSS memungkinkan dua switch fisik beroperasi sebagai satu switch logis tunggal, memberikan redundansi pada lapisan kontrol dan data. StackWise (Cisco) memungkinkan banyak switch digabungkan menjadi satu unit logis.<\/li>\n\n\n\n<li>Multichassis Link Aggregation (MLAG):MLAG memungkinkan penggabungan link (link aggregation) di beberapa switch fisik, memberikan redundansi di tingkat switch sambil tetap menyediakan satu interface logis ke perangkat yang terhubung. Sangat berguna di data center yang sangat butuh ketersediaan tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Software-Defined Networking (SDN) Redundancy:SDN membawa pendekatan baru dalam redundansi melalui kontrol terpusat dan perilaku jaringan yang bisa diprogram. Pengontrol SDN bisa dengan cepat mendeteksi kegagalan jaringan dan menghitung ulang jalur secara real-time.<\/li>\n\n\n\n<li>Network Function Virtualization (NFV) dan Redundansi:NFV memungkinkan fungsi jaringan seperti firewall, load balancer, dan router berjalan sebagai mesin virtual. Ini memberikan fleksibilitas dalam menerapkan redundansi. Fungsi jaringan virtual bisa dengan mudah direplikasi dan dimigrasikan untuk ketersediaan tinggi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penerapan Redundansi di Berbagai Tingkat Jaringan<\/h2>\n\n\n\n<p>Redundansi diterapkan di setiap lapisan jaringan untuk memaksimalkan perlindungan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Redundansi Lapisan Akses (Access Layer):Biasanya diimplementasikan melalui koneksi dual-homed ke switch lapisan distribusi. Server dan workstation penting bisa menggunakan NIC teaming (Network Interface Card teaming) untuk redundansi koneksi. Wireless access point bisa diatur dengan banyak pengontrol.<\/li>\n\n\n\n<li>Redundansi Lapisan Distribusi (Distribution Layer):Lapisan ini adalah titik agregasi untuk lapisan akses dan biasanya menggunakan protokol redundansi first hop seperti HSRP atau VRRP. Lapisan ini juga mengimplementasikan redundansi VLAN dan routing.<\/li>\n\n\n\n<li>Redundansi Lapisan Inti (Core Layer):Lapisan inti harus punya tingkat redundansi tertinggi karena kegagalan di lapisan ini bisa memengaruhi seluruh jaringan. Implementasi umum menggunakan banyak core switch dengan equal-cost multipath routing dan protokol konvergensi cepat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pemantauan dan Pemeliharaan Redundansi<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Alat Pemantauan Jaringan:Redundansi yang efektif butuh pemantauan komprehensif untuk mendeteksi kegagalan dan memverifikasi bahwa mekanisme failover berfungsi dengan baik. Alat seperti SNMP, syslog, dan software pemantauan jaringan khusus bisa memberikan visibilitas real-time ke kesehatan jaringan.<\/li>\n\n\n\n<li>Pengujian dan Validasi:Menguji mekanisme redundansi secara rutin sangat penting untuk memastikan failover akan berfungsi saat dibutuhkan. Waktu pemeliharaan terjadwal bisa digunakan untuk melakukan pengujian kegagalan terkontrol dan validasi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tantangan dan Pertimbangan<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kerumitan Pengelolaan<\/strong>: Menerapkan redundansi menambah kerumitan dalam desain jaringan dan pemecahan masalah. Administrator harus memahami interaksi antar protokol redundansi yang berbeda dan potensi konflik yang bisa terjadi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pertimbangan Biaya<\/strong>: Redundansi memerlukan investasi tambahan pada perangkat keras dan <em>software<\/em>, serta biaya operasional berkelanjutan untuk pemeliharaan dan pemantauan. Analisis biaya-manfaat harus dilakukan untuk menentukan tingkat redundansi yang sesuai.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Waktu Konvergensi (<em>Convergence Time<\/em>)<\/strong>: Protokol redundansi yang berbeda memiliki waktu konvergensi yang berbeda. Pemilihan protokol harus mempertimbangkan kebutuhan aplikasi dan toleransi terhadap gangguan layanan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tren Masa Depan dalam Redundansi Jaringan<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Redundansi Berbasis AI<\/strong>: Kecerdasan Buatan (AI) dan Pembelajaran Mesin (<em>Machine Learning<\/em>) mulai digunakan untuk analisis prediktif dalam redundansi jaringan, memungkinkan <em>failover<\/em> proaktif sebelum kegagalan nyata terjadi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Jaringan Berbasis Niat (<em>Intent-Based Networking<\/em>)<\/strong>: Memungkinkan administrator mendefinisikan kebijakan tingkat tinggi untuk redundansi, dan sistem secara otomatis menerapkan mekanisme redundansi yang sesuai.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Redundansi <em>Cloud-Native<\/em><\/strong>: Dengan migrasi ke lingkungan <em>cloud<\/em>, strategi redundansi harus disesuaikan untuk arsitektur <em>cloud-native<\/em>, termasuk redundansi <em>multi-cloud<\/em> dan <em>failover<\/em> <em>hybrid cloud<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p>Protokol redundansi jaringan adalah kebutuhan dasar dalam infrastruktur jaringan modern. Penerapan yang tepat memerlukan pemahaman mendalam tentang berbagai protokol redundansi, perencanaan yang cermat, dan pemantauan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kombinasi redundansi fisik dan logis, ditambah dengan pemantauan dan pengujian yang tepat, dapat menyediakan jaringan dengan ketersediaan tinggi yang mampu memenuhi kebutuhan bisnis yang menuntut. Seiring dengan evolusi teknologi, redundansi jaringan akan terus berkembang untuk mengakomodasi paradigma baru seperti SDN, NFV, dan <em>cloud computing<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Keberhasilan dalam implementasi redundansi jaringan tidak hanya bergantung pada teknologi yang dipilih, tetapi juga pada desain yang tepat, implementasi, dan pemeliharaan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang holistik dan pemahaman komprehensif tentang protokol redundansi, insinyur jaringan dapat membangun infrastruktur yang benar-benar kuat dan selalu tersedia.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Referensi<\/h4>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/medium.com\/@yahyahudan19\/memahami-teknologi-vrrp-redundansi-router-virtual-untuk-availabilty-sebuah-jaringan-7cbaf7e172f7\">[1]<\/a> <a href=\"https:\/\/fiberroad.com\/id\/resources\/tech-notes\/an-introduction-to-media-redundancy-protocol-mrp\/\">[2]<\/a> <a href=\"https:\/\/herza.id\/blog\/network-redundancy\/\">[3]<\/a> <a href=\"https:\/\/study-ccna.com\/cisco-fhrp-explained\/\">[4]<\/a> <a href=\"https:\/\/www.geeksforgeeks.org\/computer-networks\/firsthop-redundancy-protocol\/\">[5]<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di era digital ini, kita sangat bergantung pada koneksi internet. Jadi, kalau jaringan sampai mati (downtime), itu bisa menyebabkan kerugian finansial yang besar dan mengganggu operasional bisnis secara signifikan. Makanya, punya strategi redundansi jaringan itu penting banget dalam merancang infrastruktur IT modern. Redundansi jaringan bukan cuma jadi cadangan saat ada masalah, tapi juga memastikan layanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[101],"tags":[],"class_list":["post-31808","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31808"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31808\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31815,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31808\/revisions\/31815"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}