{"id":30790,"date":"2025-06-04T15:18:01","date_gmt":"2025-06-04T08:18:01","guid":{"rendered":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/?p=30790"},"modified":"2025-06-04T15:18:01","modified_gmt":"2025-06-04T08:18:01","slug":"urbanisasi-dan-ketimpangan-menata-kota-menjaga-desa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/urbanisasi-dan-ketimpangan-menata-kota-menjaga-desa\/","title":{"rendered":"Urbanisasi dan Ketimpangan: Menata Kota, Menjaga Desa"},"content":{"rendered":"<p>Urbanisasi adalah keniscayaan dalam proses pembangunan. Seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan akan pekerjaan serta layanan publik, kota menjadi magnet yang kuat bagi penduduk desa. Namun, di balik gegap gempita pertumbuhan kota-kota besar, terdapat tantangan besar yang terus membayangi: <strong>ketimpangan wilayah, kemiskinan struktural, tekanan terhadap infrastruktur kota, dan terpinggirkannya desa<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Indonesia, fenomena urbanisasi bukan hanya soal perpindahan penduduk dari desa ke kota, tetapi juga soal <strong>ketimpangan akses terhadap sumber daya, pelayanan publik, dan kesempatan hidup yang layak<\/strong>. Artikel ini akan membedah bagaimana urbanisasi membentuk wajah ketimpangan di Indonesia, serta bagaimana kita bisa menata kota sambil tetap menjaga desa agar pembangunan menjadi lebih adil dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/potret-arus-balik-lebaran-di-berbagai-wilayah-indonesia-10-169-6453652408a8b506df2852f2.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"770\" height=\"433\" src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/potret-arus-balik-lebaran-di-berbagai-wilayah-indonesia-10-169-6453652408a8b506df2852f2.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-30799\" style=\"width:498px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/potret-arus-balik-lebaran-di-berbagai-wilayah-indonesia-10-169-6453652408a8b506df2852f2.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 770w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/potret-arus-balik-lebaran-di-berbagai-wilayah-indonesia-10-169-6453652408a8b506df2852f2-300x169.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/potret-arus-balik-lebaran-di-berbagai-wilayah-indonesia-10-169-6453652408a8b506df2852f2-768x432.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 768w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/potret-arus-balik-lebaran-di-berbagai-wilayah-indonesia-10-169-6453652408a8b506df2852f2-255x143.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" sizes=\"(max-width: 770px) 100vw, 770px\" \/><\/a><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Urbanisasi di Indonesia: Tren yang Tak Terbendung<\/h2>\n\n\n\n<p>Menurut data BPS, lebih dari 56% penduduk Indonesia kini tinggal di wilayah perkotaan, dan angka ini diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2045. Kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar tumbuh pesat dalam jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p>Fenomena ini didorong oleh:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Peluang kerja di sektor industri dan jasa yang lebih banyak di kota<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ketersediaan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan hiburan<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Harapan hidup yang dianggap lebih layak di perkotaan<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Namun, urbanisasi yang tidak terkendali juga menimbulkan persoalan serius. Kota tumbuh secara horizontal dan vertikal tanpa perencanaan yang matang. Kawasan kumuh bermunculan, kemacetan menjadi bagian hidup sehari-hari, dan daya dukung lingkungan terus menurun. Sementara itu, desa-desa kehilangan tenaga produktifnya dan menghadapi stagnasi pembangunan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ketimpangan-digitalisasi-antara-daerah-perdesaan-dan-perkotaan-FVI399veMA.png?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img decoding=\"async\" width=\"741\" height=\"486\" data-src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ketimpangan-digitalisasi-antara-daerah-perdesaan-dan-perkotaan-FVI399veMA.png?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-30801 lazyload\" style=\"--smush-placeholder-width: 741px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 741\/486;width:429px;height:auto\" data-srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ketimpangan-digitalisasi-antara-daerah-perdesaan-dan-perkotaan-FVI399veMA.png?lossy=1&strip=1&webp=1 741w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ketimpangan-digitalisasi-antara-daerah-perdesaan-dan-perkotaan-FVI399veMA-300x197.png?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/ketimpangan-digitalisasi-antara-daerah-perdesaan-dan-perkotaan-FVI399veMA-255x167.png?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" data-sizes=\"(max-width: 741px) 100vw, 741px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" \/><\/a><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ketimpangan Kota dan Desa: Dua Dunia yang Berseberangan<\/h2>\n\n\n\n<p>Salah satu dampak paling nyata dari urbanisasi adalah <strong>ketimpangan pembangunan antara kota dan desa<\/strong>. Kota menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, teknologi, dan informasi. Di sisi lain, desa kerap tertinggal dalam hal akses infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. <strong>Ketimpangan Infrastruktur<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Banyak desa di Indonesia masih kesulitan mengakses jalan yang layak, air bersih, listrik, hingga jaringan internet. Sementara itu, kota-kota besar memiliki jalan tol bertingkat, MRT, pusat perbelanjaan modern, dan fasilitas publik canggih.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. <strong>Pendidikan dan Kesehatan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Sekolah dan fasilitas kesehatan yang berkualitas banyak terkonsentrasi di kota. Anak-anak desa harus menempuh jarak jauh untuk mendapat layanan dasar. Kualitas guru dan tenaga medis di pedesaan pun sering kali tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. <strong>Lapangan Kerja<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Desa umumnya hanya menawarkan pekerjaan di sektor pertanian atau informal, sementara kota menjanjikan upah yang lebih tinggi di sektor industri, perdagangan, dan teknologi. Tak heran, migrasi dari desa ke kota menjadi pilihan logis bagi banyak orang muda.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. <strong>Kemiskinan Struktural<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kondisi di atas menciptakan lingkaran setan kemiskinan. Ketika desa tidak mampu menyediakan kesempatan hidup yang layak, penduduknya terjebak dalam kemiskinan yang terus-menerus diwariskan antar generasi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/kotadesa6.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"454\" data-src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/kotadesa6.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-30803 lazyload\" style=\"--smush-placeholder-width: 700px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 700\/454;width:450px;height:auto\" data-srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/kotadesa6.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 700w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/kotadesa6-300x195.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/kotadesa6-139x89.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 139w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/kotadesa6-255x165.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" data-sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" \/><\/a><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kota yang Padat, Desa yang Sepi<\/h2>\n\n\n\n<p>Fenomena urbanisasi yang timpang menciptakan dua konsekuensi utama:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. <strong>Overurbanisasi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kota tidak lagi sekadar tumbuh, melainkan membengkak. Permukiman kumuh menjamur di pinggiran kota. Kualitas hidup menurun, kriminalitas meningkat, dan beban lingkungan makin berat.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya, Jakarta sebagai kota megapolitan menghadapi berbagai krisis: polusi udara, kemacetan ekstrem, banjir tahunan, serta krisis air bersih.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. <strong>Depopulasi Desa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Banyak desa menjadi kosong ditinggal anak-anak mudanya. Pertanian kekurangan tenaga kerja. Kreativitas dan inovasi sulit tumbuh. Desa menjadi &#8220;tertidur&#8221;, tidak berkembang, dan hanya menjadi &#8220;lumbung bahan mentah&#8221; bagi kota.<\/p>\n\n\n\n<p>Ironisnya, kota hidup dari desa, tetapi desa dibiarkan mati secara perlahan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img decoding=\"async\" width=\"1000\" height=\"632\" data-src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-30805 lazyload\" style=\"--smush-placeholder-width: 1000px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1000\/632;width:418px;height:auto\" data-srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 1000w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1-300x190.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1-768x485.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 768w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1-139x89.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 139w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1-409x258.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 409w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1-818x516.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 818w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Tata-kota-di-Indonesia-sumber-1000x632-1-255x161.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" data-sizes=\"(max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" \/><\/a><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Menata Kota: Tantangan dan Peluang<\/h2>\n\n\n\n<p>Untuk menghadapi realitas urbanisasi yang kompleks ini, kita perlu menata kota dengan lebih cerdas dan inklusif. Beberapa pendekatan yang perlu dilakukan:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. <strong>Pembangunan Kota Berbasis Tata Ruang<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kota harus dibangun berdasarkan perencanaan tata ruang yang komprehensif, ramah lingkungan, dan berorientasi pada manusia. <strong>Urban sprawl<\/strong> harus dibatasi. Ruang hijau harus dipertahankan. Fungsi permukiman, industri, dan fasilitas publik harus tertata rapi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. <strong>Kota Cerdas dan Berkelanjutan (Smart and Sustainable City)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Teknologi bisa membantu kota mengelola lalu lintas, energi, sampah, dan keamanan. Namun, teknologi juga harus inklusif dan tidak menciptakan &#8220;kota pintar untuk segelintir orang&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. <strong>Pemerataan Fasilitas dan Layanan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pusat-pusat layanan publik, sekolah unggulan, dan rumah sakit tidak boleh hanya terpusat di pusat kota. <strong>Desentralisasi layanan<\/strong> penting agar semua warga kota\u2014termasuk di pinggiran\u2014mendapat hak yang sama.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. <strong>Masyarakat Inklusif dan Partisipatif<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Perencanaan kota yang baik melibatkan masyarakat. Warga diajak berbicara, bukan hanya dijadikan objek. Apalagi kelompok rentan seperti kaum miskin kota, disabilitas, atau pendatang baru.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp_Image_2020-01-20_at_09_26_50.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" data-src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp_Image_2020-01-20_at_09_26_50.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-30809 lazyload\" style=\"--smush-placeholder-width: 1024px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1024\/576;width:466px;height:auto\" data-srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp_Image_2020-01-20_at_09_26_50.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 1024w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp_Image_2020-01-20_at_09_26_50-300x169.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp_Image_2020-01-20_at_09_26_50-768x432.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 768w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp_Image_2020-01-20_at_09_26_50-255x143.jpeg?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" data-sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" \/><\/a><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Menjaga Desa: Menghidupkan Pusat Pertumbuhan Baru<\/h2>\n\n\n\n<p>Menjaga desa bukan berarti menolak urbanisasi, tapi <strong>menyeimbangkan pembangunan<\/strong> agar desa juga menjadi tempat yang layak untuk hidup dan berkembang.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa strategi penting antara lain:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. <strong>Pembangunan Infrastruktur Dasar<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jalan desa, air bersih, listrik, dan internet harus menjadi prioritas. Tanpa ini, tidak mungkin desa bersaing dalam menarik penduduk atau investasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. <strong>Digitalisasi dan Inovasi Pedesaan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Desa bisa menjadi pusat ekonomi digital berbasis pertanian, pariwisata, dan UMKM. Sudah banyak contoh <strong>desa wisata digital<\/strong> yang sukses, seperti Desa Penglipuran di Bali atau Desa Nglanggeran di Yogyakarta.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. <strong>Revitalisasi Pertanian dan Ekonomi Lokal<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pertanian harus dibuat menarik dan menguntungkan, melalui dukungan teknologi, akses pasar, dan pendampingan. <strong>Petani muda harus didukung<\/strong>, bukan ditinggalkan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. <strong>Program Desa Membangun<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Desa diberikan anggaran, otonomi, dan kapasitas untuk merancang pembangunan sendiri. Program Dana Desa sudah ada, tinggal ditingkatkan efektivitas dan akuntabilitasnya.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sinergi Kota dan Desa: Paradigma Baru Pembangunan<\/h2>\n\n\n\n<p>Penting untuk meninggalkan paradigma lama yang menempatkan kota sebagai pusat dan desa sebagai penyangga. Sebaliknya, kita perlu membangun paradigma <strong>interdependensi kota dan desa<\/strong>, di mana keduanya tumbuh bersama, saling mendukung.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kota menjadi pasar bagi hasil produksi desa.<\/li>\n\n\n\n<li>Desa menyuplai pangan, energi, dan tenaga kerja bagi kota.<\/li>\n\n\n\n<li>Kota menyediakan teknologi, pengetahuan, dan akses modal bagi desa.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Dengan pendekatan ini, <strong>kota dan desa menjadi mitra dalam pembangunan<\/strong>, bukan pihak yang saling berebut sumber daya atau saling meninggalkan.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/chinese-city_1127-4129_11zon.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img decoding=\"async\" width=\"626\" height=\"417\" data-src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/chinese-city_1127-4129_11zon.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-30811 lazyload\" style=\"--smush-placeholder-width: 626px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 626\/417;width:360px;height:auto\" data-srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/chinese-city_1127-4129_11zon.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 626w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/chinese-city_1127-4129_11zon-300x200.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/chinese-city_1127-4129_11zon-255x170.jpg?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" data-sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" \/><\/a><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penutup: Menuju Pembangunan yang Lebih Adil<\/h2>\n\n\n\n<p>Urbanisasi tidak bisa dihentikan, tapi bisa <strong>diarahkan<\/strong>. Ketimpangan tidak bisa diabaikan, tapi bisa <strong>dikurangi<\/strong>. Menata kota saja tidak cukup. Kita juga harus menjaga desa agar tetap hidup, lestari, dan menarik untuk generasi mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia yang maju bukan hanya tentang Jakarta yang modern, tapi juga tentang <strong>desa-desa yang mandiri, inovatif, dan sejahtera<\/strong>. Hanya dengan pemerataan yang nyata, kita bisa mewujudkan visi pembangunan yang adil dan merata untuk seluruh rakyat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>refrensi : <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/ekonomi\/outlook-2025-kesenjangan-ekonomi-dan-urbanisasi-menjadi-tantangan-1196454\">https:\/\/www.tempo.co\/ekonomi\/outlook-2025-kesenjangan-ekonomi-dan-urbanisasi-menjadi-tantangan-1196454<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Urbanisasi adalah keniscayaan dalam proses pembangunan. Seiring pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan akan pekerjaan serta layanan publik, kota menjadi magnet yang kuat bagi penduduk desa. Namun, di balik gegap gempita pertumbuhan kota-kota besar, terdapat tantangan besar yang terus membayangi: ketimpangan wilayah, kemiskinan struktural, tekanan terhadap infrastruktur kota, dan terpinggirkannya desa. Di Indonesia, fenomena urbanisasi bukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":30797,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[101],"tags":[],"class_list":["post-30790","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30790","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30790"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30790\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30815,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30790\/revisions\/30815"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30797"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}