{"id":29143,"date":"2025-05-28T14:03:33","date_gmt":"2025-05-28T07:03:33","guid":{"rendered":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/?p=29143"},"modified":"2025-05-28T14:03:33","modified_gmt":"2025-05-28T07:03:33","slug":"splicing-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/splicing-2\/","title":{"rendered":"SPLICING\u00a0\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><strong>3.3 Dasar Teori&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.3.1 Pendahuluan&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan menghubungkan <em>fiber <\/em>adalah untuk memungkinkan cahaya merambat&nbsp; atau berpropagasi dari satu <em>fiber <\/em>ke <em>fiber <\/em>selanjutnya dengan sedikit mungkin <em>loss<\/em>. Tiga&nbsp; kunci keberhasilan dari proses penyambungan atau <em>splicing <\/em>maupun proses&nbsp; pemasangan konektor atau terminasi adalah \u201c<em>Strip, Clean, and Cleave<\/em>\u201d.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Stripping <\/em>atau proses pengupasan adalah proses pelepasan lapisan <em>coating <\/em>dan&nbsp; lapisan lainnya yang melindungi serat optik. Proses pengelupasan ini harus dilakukan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>secara tepat dengan menggunakan <em>stripping tool <\/em>yang memiliki ukuran (diameter)&nbsp; pengelupasan yang berbeda-beda.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Cleaning <\/em>atau kebersihan merupakan suatu langkah yang sangat penting dalam&nbsp; proses penyambungan atau pemasangan konektor, begitupun dalam pengujian jaringan&nbsp; serat optik, langkah ini sangat penting untuk melihat tingkat efektifitas cahaya&nbsp; merambat dalam serat optik.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan proses <em>cleaving <\/em>merupakan proses sebelum melakukan&nbsp; penyambungan atau proses yang dilakukan setelah memasukkan serat optik dalam&nbsp; konektor sehingga diperoleh serat optik yang memiliki permukaan yang rata, hal ini&nbsp; bertujuan untuk menghindari adanya hamburan cahaya yang berlebihan ketika cahaya&nbsp; melewati serat optik.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hubungan atau sambungan pada serat optik penting dilakukan untuk beberapa&nbsp; alasan berikut :&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>1. <em>Fiber optic <\/em>panjangnya terbatas dan oleh karena itu harus dilakukan&nbsp; penyambungan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>2. <em>Fiber optic <\/em>juga harus disambungkan dengan <em>coupler <\/em>atau <em>splitter<\/em>.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>3. Harus disambungkan pada perangkat <em>transmitter <\/em>dan <em>receiver&nbsp;&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.3.2 Jenis &#8211; Jenis Penyambungan Serat Optik&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan sifatnya, penyambungan serat optik dapat dibedakan menjadi :&nbsp; a) Sambungan permanen&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sambungan ini digunakan untuk menyambungkan dua serat optik secara permanen&nbsp; yang berarti tidak dapat dibongkar kembali. Memiliki nilai redaman terkecil&nbsp; dibanding teknik penyambungan lain. Teknik yang digunakan adalah <em>fusion&nbsp; splicer.&nbsp;&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>b) Sambungan semi \u2013 permanen&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Penyambungan ini dilakukan dengan menyatukan ujung \u2013 ujung serat optik dengan&nbsp; suatu bahan yang memiliki indeks bias bahan yang <em>matching <\/em>dengan indeks bias&nbsp; serat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi <em>loss <\/em>akibat pantulan pada bagian&nbsp; sambungan. Teknik yang digunakan adalah <em>mechanical splicer<\/em>.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>c) Sambungan tak permanen&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Umumnya hanya digunakan untuk menghubungkan serat optik dengan perangkat&nbsp; optik agar mudah dilepas dan dipasang lagi. Sambungan yang digunakan adalah&nbsp; konektor.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.3.3 Prinsip Kerja <\/strong><strong><em>Splicing&nbsp;&nbsp;<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Prinsip kerja <em>Splicing <\/em>berbeda antara satu dan yang lainya, diantaranya :&nbsp; <strong>3.3.3.1 <\/strong><strong><em>Mechanical Splicing&nbsp;<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penyambungan menggunakan metode <em>mechanical splice <\/em>dilakukan dengan&nbsp; menyatukan ujung ujung serat optik dengan suatu bahan yang memiliki indeks bias&nbsp; bahan yang sama\/serupa dengan indeks bias serat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi&nbsp; loss akibat pantulan pada bagian sambungan. Proses penyambungan ini relatif bisa&nbsp; dilakukan dalam kondisi lingkungan kotor sehingga prosesnya menjadi lebih mudah&nbsp; dibandingkan <em>fusion splicing<\/em>. <em>Mechanical Splicing <\/em>dapat dilakukan di dalam maupun&nbsp; luar ruangan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/lh7-rt.googleusercontent.com\/docsz\/AD_4nXd3sTHwvhTq_L28upeD3RmxorjaIzUT61iOPvuhBspQvEaqfupLk3_gAUujvM20qoq4Fp9CBka9rVuJJ6fzMZ77LKXdpjkSpVvBgrdAQBM4KReJ-zDuKDCaeSWSFLjJOIvWIRQ_Lg?key=gm1VDGYfQXslEMEFWgCKUw\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" class=\"lazyload\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Gambar 3.1 Mechanical Splicing <\/em>Kelebihan&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>mechanical splicing <\/em>adalah :&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u2022 Tidak membutuhkan pasokan listrik&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u2022 Penyambungan dapat dilakukan berulang \u2013 ulang&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kekurangan <em>mechanical splicing <\/em>:&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u2022 <em>Loss <\/em>relatif besar&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u2022 Efisiensi daya rendah&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.3.3.2 <\/strong><strong><em>Fusion Splicing&nbsp;&nbsp;<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penyambungan dengan <em>Fusion Splicer <\/em>ini menggunakan metode lebur (<em>fusion&nbsp; splice<\/em>) dengan meleburkan ujung-ujung dari serat optik yang akan disambungkan&nbsp; dengan menggunakan laser.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Laser ini dihasilkan dari dua buah elektroda yang dialiri listrik sehingga&nbsp; melepaskan elektron. Panas yang ditimbulkan laser ini cukup tinggi sehingga dalam&nbsp; waktu sebentar dapat menyatukan kedua buah ujung serat optik. Penyambungan dengan&nbsp; metode ini menghasilkan sambungan dengan <em>loss <\/em>terkecil (umumnya kurang dari 0,03&nbsp; dB).&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh7-rt.googleusercontent.com\/docsz\/AD_4nXdDJwfsAA4TZJDw5V77EzuJkUKZM8kLapBi62yguKWZ-Ky8f4AkJp2sQijMyfq9WJz1MHLvyC-kW7y1ISiPuxML4Ou1AI6Qbm_ZqnNIIpbZMf6yfmk0g5TtIQWkn_jsUCJSd0RZ?key=gm1VDGYfQXslEMEFWgCKUw\" width=\"504\" height=\"150\"><em>Gambar 3.2 Fusion Splicer&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em><\/em><em>Gambar 3.3 Prinsip kerja fusion splicer&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Fusion Splicer <\/em>ini menggunakan <em>control <\/em>komputer yang sekaligus akan&nbsp; menganalisa hasilnya. Serat ini ditangani oleh mikroposisi untuk alignment dimensi&nbsp; X,Y,Z. Prinsip kerjanya tampak pada gambar. Cahaya terkolimasi dipantulkan oleh&nbsp; cermin, cahaya melewati serat ditangkap oleh kamera video. Kamera tersebut&nbsp; terhubung ke layar monitor dan ke komputer yang menganalisa <em>image<\/em>. Karena cahaya&nbsp; dibiaskan oleh indeks bias serat yang berbeda, selubung tampak gelap dan intinya&nbsp; tampak terang. Komputer <em>splicer <\/em>menganalisa <em>image <\/em>tersebut untuk menentukan garis&nbsp; tengah inti.&nbsp;<strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Komputer kemudian menggerakkan serat untuk di <em>alignment. <\/em>Kamera tersebut&nbsp; bergerak menganalisa serat pada dua bidang tegak lurus. Bila serat sudah <em>align<\/em>,&nbsp; komputer mengestimasi <em>loss splice<\/em>. Jika hasil estimasi tidak <em>acceptable, <\/em>serat&nbsp; dibersihkan atau dipotong lagi. Jika estimasi loss masih dalam batas limit, proses&nbsp; peleburan dimulai, setelah proses <em>splice <\/em>selesai, <em>alignment <\/em>inti diperiksa.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum melakukan penyambungan, serat harus bebas dari lapisan luarnya&nbsp; (selain bagian inti dan selubungnya). Untuk mengelupaskan lapisan <em>coating<\/em>, dapat&nbsp; digunakan cairan kimia (dicelupkan pada cairan <em>paint stripper<\/em>) atau mekanik&nbsp; (menggunakan <em>wire stripper <\/em>kualitas tinggi). Pengupasan harus hati-hati, jangan sampai&nbsp; selubung rusak. Selanjutnya <em>fiber <\/em>dibersihkan dengan alkohol.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah itu <em>fiber <\/em>dipotong dengan menggunakan <em>fiber cleaver<\/em>. Hasil potongan&nbsp; sempurna ditunjukkan dengan penampang melintang yang tegak lurus atau&nbsp; menghasilkan bayangan <em>full moon <\/em>di layar mikroskop.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.3.4 Akibat Kesalahan Proses Penyambungan&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Proses kesalahan penyambungan seringkali mengalami beberapa kondisi yang&nbsp; mengakibatkan nilai <em>loss <\/em>tinggi. Beberapa kesalahan penyambungan akan dijelaskan&nbsp; pada tabel berikut.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Tabel 3.1 Beberapa kesalahan penyambungan&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/lh7-rt.googleusercontent.com\/docsz\/AD_4nXcxuGKDSfYQ4GXKU2ByuZITlmG4R4S5zM_8iQjYsKtmLkOqkck7N5GQcUpyfqKQnGgd1A6IU34xmN19K_LY912w81bNupV7purAP9jaSJe1RLMCUnx9vMmgK2gKT73xwoKJoXY__A?key=gm1VDGYfQXslEMEFWgCKUw\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" class=\"lazyload\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>3.3.5 Kabel Distribusi&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kabel <em>fiber optic <\/em>yang mempunyai fungsi untuk meneruskan informasi yang&nbsp; berupa sinyal <em>optic <\/em>dari mulai ODC sampai dengan ODP, menggunakan kabel <em>fiber optic Single Mode <\/em>tipe G.652.D dan jenis instalasinya dengan metoda tanam langsung,&nbsp; <em>duct, microduct<\/em>, dan aerial.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.3.6 <\/strong><strong><em>Pigtail <\/em><\/strong><strong>&amp; <\/strong><strong><em>Patchcord&nbsp;<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u2022 <em>Pigtail <\/em>adalah kabel serat optik yang memiliki panjang terbatas yang berfungsi&nbsp; sebagai penghubung dua komponen optis yang dilengkapi salah satu konektor pada&nbsp; salah satu ujungnya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/lh7-rt.googleusercontent.com\/docsz\/AD_4nXflWPrKN8vvdyneDhWGMVJHV8mm-wKNQmanASPsW_FQVj6chYnAkT7Z-Z3zRNX6Clocm8enxX52JDtRIQkJf5-RkY5XCAZEFAWtuqSCPP_0LrYIKXugi_GgPkD-y1JR6vFhcS1AEw?key=gm1VDGYfQXslEMEFWgCKUw\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" class=\"lazyload\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Gambar 3.4 Pigtail&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>\u2022 <em>Patchcord <\/em>hampir mirip dengan <em>pigtail <\/em>yaitu seutas kabel <em>fiber optic <\/em>yang memiliki&nbsp; dua konektor pada kedua ujungnya yang digunakan sebagai kabel interkoneksi.&nbsp; Digunakan untuk menghubungkan dua perangkat.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/lh7-rt.googleusercontent.com\/docsz\/AD_4nXdBNv9Vrl_HiZduK_mQ-3vX_PG6JNFJjw_oYnhZhiYaNn0ku6qq6vo-dzepZrYwNGJa1NyvqizFfCsWY3cqyX8-dXG5qGO21q1R2qR2JUxLrwq8L5KugIcNCwShJ8byyfQMlKSQvw?key=gm1VDGYfQXslEMEFWgCKUw\" alt=\"\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" class=\"lazyload\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Gambar 3.5 Pacthcord&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>3.4 Prosedur Praktikum&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>a. Pengupasan Kabel Distribusi&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>1. Siapkan kabel distribusi <em>fiber optic&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>2. Potong bagian sling \u00b1 1 Meter dengan <em>cutter <\/em>menggunakan sarung tangan&nbsp; 3. Kupas bagian terluar kabel, ambil benang kuning, tarik perlahan ke sisi yang&nbsp; berlawanan arah&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>4. Bersihkan jeli pelindung dengan kain lap&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>5. Buang bagian <em>filler <\/em>&amp; <em>strengthen <\/em>nya, solasi bagian ujung yang sudah dikupas b.&nbsp; <em>Fusion Splicing&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>1. Masukkan <em>sleeve protector <\/em>di bagian ujung serat&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>2. Kupas kedua serat optik yang akan disambung dengan <em>fiber stripper <\/em>untuk&nbsp; memisahkan jaket dari serat kaca. Kupas sepanjang \u00b1 4 cm&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>3. Hilangkan <em>coating <\/em>serat kaca dengan menggunakan <em>fiber stripper<\/em>, sehingga hanya&nbsp; tersisa <em>core <\/em>dan <em>cladding<\/em>, yang akan disambung dengan menggunakan <em>fusion&nbsp; splicer<\/em>.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>4. Bersihkan serat dari debu dengan menggunakan tisu yang dibasahi dengan&nbsp; alkohol&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>5. Potong ujung serat dengan menggunakan <em>fiber cleaver <\/em>untuk mendapatkan serat&nbsp; yang terpotong siku, sehingga serat dapat tersambung dengan baik&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>6. Letakkan kedua <em>fiber <\/em>yang akan disambungkan pada <em>holder fusion splicer<\/em>. Tutup&nbsp; <em>wind protector<\/em>-nya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>7. Jalankan program otomatis untuk <em>splicing fiber optic<\/em>. Lalu angkat kembali <em>fiber <\/em>yang telah tersambung&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>8. Masukkan kedalam <em>heater <\/em>untuk memanaskan <em>sleeve protector <\/em>agar melindungi&nbsp; hasil <em>splicing <\/em>tersebut&nbsp;&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>3.3 Dasar Teori&nbsp;&nbsp; 3.3.1 Pendahuluan&nbsp;&nbsp; Tujuan menghubungkan fiber adalah untuk memungkinkan cahaya merambat&nbsp; atau berpropagasi dari satu fiber ke fiber selanjutnya dengan sedikit mungkin loss. Tiga&nbsp; kunci keberhasilan dari proses penyambungan atau splicing maupun proses&nbsp; pemasangan konektor atau terminasi adalah \u201cStrip, Clean, and Cleave\u201d.&nbsp;&nbsp; Stripping atau proses pengupasan adalah proses pelepasan lapisan coating dan&nbsp; lapisan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":60,"featured_media":29146,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[101],"tags":[],"class_list":["post-29143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/60"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29143"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29143\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29148,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29143\/revisions\/29148"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29146"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}