{"id":29066,"date":"2025-05-28T13:19:51","date_gmt":"2025-05-28T06:19:51","guid":{"rendered":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/?p=29066"},"modified":"2025-05-28T13:19:52","modified_gmt":"2025-05-28T06:19:52","slug":"persebaya-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/persebaya-surabaya\/","title":{"rendered":"PERSEBAYA SURABAYA"},"content":{"rendered":"<p><strong>&#8220;Bajol Ijo&#8221; dari Kota Pahlawan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\uddd3\ufe0f Tahun Berdiri dan Sejarah Awal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya) resmi berdiri pada 18 Juni 1927, dengan nama awal Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Klub ini didirikan oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pribumi sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi klub-klub Belanda.<br>Pada 1943, SIVB berubah nama menjadi Persebaya dan menjadi anggota Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Klub ini dikenal sebagai salah satu pelopor utama sepak bola nasional.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83e\udde3 Suporter Fanatik: Bonek<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Suporter Persebaya dikenal dengan nama <strong>Bonek<\/strong>, singkatan dari <em>Bondo Nekat<\/em> (modal nekat). Bonek merupakan salah satu kelompok suporter paling militan dan legendaris di Indonesia. Mereka terkenal karena kesetiaan luar biasa, mendukung tim ke mana pun bertanding, bahkan tanpa tiket atau logistik yang memadai.<br>Bonek juga dikenal aktif dalam berbagai aksi sosial dan budaya, menjadi representasi semangat warga Surabaya yang berani, keras, dan solidaritas tinggi.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83c\udfbd Jersey: Identitas Hijau Bajol Ijo<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Warna khas Persebaya adalah <strong>hijau<\/strong> \u2013 melambangkan kesegaran, keberanian, dan semangat hidup.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kandang:<\/strong> Hijau dengan kombinasi kuning atau putih.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Tandang:<\/strong> Biasanya putih, abu-abu, atau hitam.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Lambang klub:<\/strong> Mengandung gambar tugu pahlawan, hiu dan buaya \u2013 simbol khas kota Surabaya dan pertempuran sejarah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>\ud83c\udfa8 Makna Warna Jersey Persebaya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Warna-warna pada jersey Persebaya tidak sekadar estetika, tetapi sarat makna yang mencerminkan filosofi klub dan identitas Kota Surabaya:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe2 Hijau (Warna Utama\/Kandang)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Warna hijau adalah identitas utama Persebaya, dan telah menjadi simbol kebanggaan sejak era awal.<br>Maknanya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Harapan &amp; Semangat Hidup:<\/strong> Hijau melambangkan semangat juang yang terus tumbuh, sejalan dengan semangat perjuangan warga Surabaya sebagai \u201cKota Pahlawan\u201d.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kesejukan namun Kuat:<\/strong> Meski identik dengan kesejukan, hijau di tubuh Persebaya mencerminkan ketenangan dalam menghadapi tekanan, tapi tetap kuat dan tangguh.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Keterikatan Alam &amp; Tradisi:<\/strong> Warna hijau juga menyimbolkan ikatan kuat Persebaya dengan masyarakat, budaya, dan alam sekitarnya \u2014 terutama dengan filosofi kehidupan yang membumi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>\u26aa Putih (Jersey Tandang)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Putih sering digunakan sebagai warna jersey tandang Persebaya.<br>Maknanya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kesucian &amp; Sportivitas:<\/strong> Melambangkan perjuangan yang jujur dan bersih di lapangan hijau.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kebebasan:<\/strong> Warna putih mencerminkan kebebasan berekspresi dan keberanian beraksi tanpa beban.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>\u26ab Hitam \/ Abu-abu (Jersey Alternatif)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dipakai pada laga-laga tertentu atau sebagai warna cadangan.<br>Maknanya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Kekuatan &amp; Elegansi:<\/strong> Menunjukkan sisi agresif dan maskulin dari Bajol Ijo, serta gaya elegan dan dominan saat bermain.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Simbol Ketegasan:<\/strong> Hitam juga menunjukkan tekad kuat, fokus, dan konsistensi saat menghadapi tekanan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p>Warna-warna ini tidak hanya menjadi identitas visual klub, tapi juga mencerminkan karakter, etos perjuangan, dan filosofi &#8220;Bajol Ijo&#8221; dalam menaklukkan setiap tantangan \u2014 baik di dalam stadion maupun sebagai ikon kebanggaan Kota Surabaya.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83e\uddd1\u200d\ud83c\udfeb Jajaran Pelatih<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa pelatih legendaris dan penting dalam sejarah Persebaya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Mochammad Basri:<\/strong> Pelatih era awal Persebaya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Tony Ho &amp; Rusdy Bahalwan:<\/strong> Ikonik di era 1980-an dan 1990-an.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Jacksen F. Tiago:<\/strong> Membawa Persebaya menjuarai Liga Indonesia pada 2004.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Aji Santoso:<\/strong> Pelatih lokal yang memperkuat karakter tim sejak 2019.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Uston Nawawi:<\/strong> Eks pemain bintang yang juga menjadi bagian staf pelatih.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udc68\u200d\ud83c\udfeb Jajaran Pelatih Persebaya Surabaya dari Masa ke Masa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya telah ditangani oleh berbagai pelatih yang membawa gaya permainan dan pendekatan strategi berbeda. Beberapa di antaranya menjadi bagian penting dari sejarah kejayaan &#8220;Bajol Ijo&#8221;:<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe9 1. Rusdi Bahalwan (Era 1980-an \u2013 1990-an)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Status:<\/strong> Pelatih legendaris Persebaya<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kontribusi:<\/strong> Membentuk karakter tim sebagai pejuang sejati dan menerapkan filosofi bermain cepat dan keras.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Prestasi:<\/strong> Membawa Persebaya menjuarai kompetisi internal dan menjadi finalis Liga Indonesia.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe9 2. Henk Wullems (1996 \u2013 1997)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Asal:<\/strong> Belanda<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Prestasi:<\/strong> Membawa Persebaya juara <strong>Liga Indonesia 1996\u201397<\/strong>, mengalahkan Bandung Raya di final.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kontribusi:<\/strong> Menanamkan disiplin taktik Eropa dan memoles para pemain muda potensial saat itu.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe9 3. Jacksen F. Tiago (2003 \u2013 2006)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Asal:<\/strong> Brasil<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Prestasi:<\/strong> Membawa Persebaya menjadi <strong>juara Divisi Satu (2003)<\/strong> dan <strong>juara Liga Indonesia 2004<\/strong>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kontribusi:<\/strong> Membangun tim yang atraktif dan produktif, serta memperkenalkan filosofi permainan menyerang.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe9 4. Aji Santoso (Beberapa periode, terakhir 2019 \u2013 2022)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Asal:<\/strong> Indonesia (putra daerah asal Malang)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kontribusi:<\/strong> Membina banyak pemain muda lokal dan memperkenalkan gaya main modern nan rapi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Prestasi:<\/strong> Membawa Persebaya finis runner-up Liga 1 2019 dan menjadikan Bajol Ijo tim yang konsisten di papan atas.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe9 5. Angel Alfredo Vera (2017 \u2013 2018)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Asal:<\/strong> Argentina<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Prestasi:<\/strong> Membawa Persebaya <strong>juara Liga 2 (2017)<\/strong> dan promosi ke Liga 1.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kontribusi:<\/strong> Memperkenalkan permainan agresif dan membangkitkan semangat tim pasca keterpurukan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe9 6. Paul Munster (2023 \u2013 sekarang)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Asal:<\/strong> Irlandia Utara<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kehadiran:<\/strong> Ditunjuk untuk membangun ulang kekuatan Persebaya pasca-pergantian generasi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kontribusi:<\/strong> Fokus pada kestabilan lini belakang dan pengembangan strategi bertahan-bertransisi cepat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe9 7. Aji Yuwono, Bejo Sugiantoro, Ibnu Grahan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Status:<\/strong> Pelatih lokal dan caretaker<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Peran:<\/strong> Mengisi kekosongan sementara, terutama saat transisi pelatih atau pergantian manajemen.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kontribusi:<\/strong> Menjaga semangat internal tim dan mempertahankan performa dalam masa sulit.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83c\udfdf\ufe0f Homebase: Stadion Gelora Bung Tomo (GBT)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) adalah kandang Persebaya saat ini, dengan kapasitas lebih dari 45.000 penonton.<br>Stadion ini dibangun pada 2008 dan menjadi markas resmi Persebaya sejak 2010-an, menggantikan Stadion Gelora 10 November (Tambaksari).<br>GBT juga menjadi stadion Piala Dunia U-17 tahun 2023.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\u26bd Trofi dan Prestasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya merupakan klub dengan sejarah prestasi panjang:<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Juara Perserikatan:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>1951, 1952, 1975\u20131978 (3 musim beruntun), dan 1987.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Juara Liga Indonesia (Divisi Utama):<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>1996\u20131997 dan 2004.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Juara Liga 2:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>2017 (setelah kembali dari dualisme).<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Runner-up Liga 1:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>2019.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Juara Piala Presiden:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>2020 (turnamen pramusim).<br>Persebaya juga dikenal sebagai salah satu klub yang konsisten mencetak pemain muda berkualitas.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p><strong>\ud83c\udfc6 TROFI DAN PRESTASI PERSEBAYA SURABAYA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya dikenal sebagai salah satu klub tersukses dan paling bersejarah di Indonesia. Mereka telah meraih berbagai gelar juara di era Perserikatan, Liga Indonesia, hingga era Liga 1.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe2 1. Juara Perserikatan (Era Sebelum Liga Indonesia) \u2013 6 Gelar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya menjadi salah satu raksasa di era Perserikatan, kompetisi sepak bola amatir antar daerah di Indonesia sebelum era profesional dimulai.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\ud83e\udd47 <strong>Tahun Juara:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>1941<\/li>\n\n\n\n<li>1950<\/li>\n\n\n\n<li>1951<\/li>\n\n\n\n<li>1952<\/li>\n\n\n\n<li>1975\u20131978<\/li>\n\n\n\n<li>1987\u20131988<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li>\u26bd <strong>Catatan:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mendominasi era awal kompetisi Perserikatan.<\/li>\n\n\n\n<li>Persaingan kuat dengan Persija dan PSM di masa itu.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe2 2. Juara Liga Indonesia (Era Profesional) \u2013 2 Gelar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah Perserikatan dan Galatama digabungkan pada 1994 menjadi Liga Indonesia, Persebaya tetap menjadi kekuatan besar.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\ud83e\udd47 <strong>Juara:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>1996\u20131997 (di bawah pelatih Henk Wullems)<\/li>\n\n\n\n<li>2004 (bersama pelatih Jacksen F. Tiago)<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li>\ud83e\udd48 <strong>Runner-up:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>1998\u20131999<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe2 3. Juara Divisi Satu \u2013 1 Gelar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\ud83e\udd47 <strong>Tahun:<\/strong> 2003<\/li>\n\n\n\n<li>\ud83c\udfdf\ufe0f <strong>Catatan:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menjadi juara Divisi Satu (kasta kedua) setelah sempat turun kasta.<\/li>\n\n\n\n<li>Kembali ke Liga Utama dan kemudian jadi juara di musim berikutnya (2004).<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe2 4. Juara Liga 2 \u2013 1 Gelar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\ud83e\udd47 <strong>Tahun:<\/strong> 2017<\/li>\n\n\n\n<li>\ud83c\udfdf\ufe0f <strong>Catatan:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kembali setelah vakum karena konflik dualisme klub (Persebaya vs Persebaya DU).<\/li>\n\n\n\n<li>Pelatih: Angel Alfredo Vera<\/li>\n\n\n\n<li>Mengalahkan PSMS Medan di final dengan skor 3\u20132.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe2 5. Trofi Lain &amp; Turnamen Pra-Musim<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun bukan kompetisi resmi liga, Persebaya juga mengoleksi sejumlah trofi dari turnamen nasional dan pramusim bergengsi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>\ud83e\udd47 <strong>Piala Gubernur Jatim:<\/strong> Beberapa kali juara<\/li>\n\n\n\n<li>\ud83e\udd47 <strong>Trofeo Surabaya<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>\ud83e\udd47 <strong>Piala Presiden (Runner-up 2019)<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>\ud83e\udded Filosofi Klub: Keberanian, Kesetiaan, dan Perjuangan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya adalah simbol kebanggaan warga Surabaya. Filosofi klub ini menyatu erat dengan sejarah perjuangan bangsa, karakter keras dan berani khas warga Surabaya, serta semangat pantang menyerah.<br>Identitas \u201cBajol Ijo\u201d mewakili kekuatan dan kelincahan, serta komitmen untuk selalu memperjuangkan kebanggaan kota di lapangan hijau.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udfe2 FILOSOFI PERSEBAYA SURABAYA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. \u201cBajol Ijo\u201d: Simbol Keberanian dan Keunikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Julukan \u201cBajol Ijo\u201d atau <em>Bajak Laut Hijau<\/em> bukan sekadar sebutan. Filosofi ini menggambarkan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Keberanian dan Perlawanan<\/strong>: Seperti bajak laut yang tak gentar menghadapi siapa pun, Persebaya dikenal sebagai tim yang berani menyerang dan bermain ngotot, apapun lawannya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Identitas Hijau<\/strong>: Warna hijau menjadi representasi kekuatan alam, kesegaran semangat muda, dan kekompakan. Warna ini jarang digunakan tim besar lain, menjadikan Persebaya unik.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>2. \u201cWani\u201d \u2013 Jiwa Perlawanan Arek Suroboyo<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu nilai tertanam dalam DNA Persebaya adalah kata \u201cWANI\u201d (berani), yang sangat lekat dengan karakter masyarakat Surabaya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pantang Mundur<\/strong>: Filosofi ini mengakar kuat, terutama saat menghadapi lawan berat atau ketika berada dalam tekanan.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Melawan Ketidakadilan<\/strong>: Persebaya dan suporternya dikenal vokal dalam memperjuangkan keadilan di sepak bola nasional, termasuk saat mengalami konflik dualisme pada 2010-an.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>3. Kebanggaan Daerah &amp; Nasionalisme<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya berdiri tidak sekadar sebagai klub, tetapi sebagai:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Simbol Perjuangan Kota Pahlawan<\/strong>: Klub ini menjadi refleksi semangat perjuangan warga Surabaya yang dikenal gigih, keras, dan tidak mudah menyerah.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Wadah Identitas<\/strong>: Dari warna hijau, maskot buaya dan hiu, hingga slogan-slogan klub, semuanya mencerminkan kekayaan budaya lokal.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>4. Kultur Pembinaan &amp; Talenta Muda<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Filosofi klub juga menekankan pembinaan pemain muda dari bawah, bukan hanya mengandalkan pemain bintang:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Melahirkan Bintang<\/strong>: Sejak dulu, Persebaya dikenal melahirkan pemain top nasional seperti Bejo Sugiantoro, Uston Nawawi, Andik Vermansah, hingga Ricky Kambuaya.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Akar Rumput<\/strong>: Filosofi ini dijalankan melalui kompetisi internal dan akademi muda yang kuat seperti <em>EPA Persebaya<\/em> (Elite Pro Academy).<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>5. Bonek sebagai Ruh Klub<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Filosofi klub tak bisa lepas dari dukungan <strong>Bonek (Bondo Nekat)<\/strong>, suporter setia dan penuh semangat yang telah melewati suka duka bersama klub:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Solidaritas &amp; Loyalitas<\/strong>: Bonek bukan hanya pendukung, tapi bagian dari perjuangan klub. Mereka menunjukkan bahwa klub dan rakyat bisa bersatu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Perjuangan Bersama<\/strong>: Saat Persebaya dibekukan PSSI, Bonek-lah yang terus bergerak menuntut keadilan dan memperjuangkan kembali eksistensi klub.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>6. Sepak Bola Sebagai Perjuangan Sosial<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaya memandang sepak bola sebagai alat perjuangan, bukan hanya hiburan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Klub Rakyat<\/strong>: Filosofi ini menempatkan klub sebagai milik masyarakat, bukan hanya elite pemilik modal.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Media Perubahan<\/strong>: Persebaya dan Bonek sering mengangkat isu sosial seperti anti-korupsi, toleransi, dan kemanusiaan lewat aksi-aksi di tribun.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>\ud83d\udd25 RIVALITAS PERSEBAYA SURABAYA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>1. Persebaya vs Arema FC (Derby Jatim \/ Super East Java Derby)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Status<\/strong>: Rivalitas Terbesar &amp; Terpanas di Jawa Timur<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Latar Belakang<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kedua tim berasal dari provinsi yang sama, yaitu Jawa Timur.<\/li>\n\n\n\n<li>Arema FC berasal dari Malang, sedangkan Persebaya dari Surabaya.<\/li>\n\n\n\n<li>Kedekatan geografis dan perbedaan budaya (Malang vs Surabaya) memicu tensi tinggi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Rivalitas<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Budaya &amp; Identitas<\/strong>: Surabaya dikenal keras dan lantang, Malang lebih tenang dan teratur.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Suporter<\/strong>: Bonek (Persebaya) dan Aremania (Arema) punya sejarah rivalitas yang panjang dan emosional.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pertemuan Sengit<\/strong>: Setiap laga disebut \u201cDerby panas\u201d, tensi tinggi bahkan jauh sebelum kick-off.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Catatan Khusus<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Rivalitas ini seringkali menimbulkan ketegangan bahkan kerusuhan, namun dalam beberapa tahun terakhir ada upaya perdamaian dari kedua belah pihak.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>2. Persebaya vs Persija Jakarta (Rivalitas Klasik)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Status<\/strong>: Rivalitas Historis<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Latar Belakang<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Rivalitas ini sudah ada sejak era kompetisi Perserikatan.<\/li>\n\n\n\n<li>Kedua tim termasuk klub tertua dan paling berpengaruh di era awal sepak bola Indonesia.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Rivalitas<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pertarungan Dua Kota Besar<\/strong>: Surabaya vs Jakarta, dua kekuatan ekonomi dan budaya di Indonesia.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Bonek vs The Jakmania<\/strong>: Hubungan suporter keduanya sering panas dan penuh tensi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Momen Bersejarah<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Laga Persebaya vs Persija sering jadi sorotan media nasional.<\/li>\n\n\n\n<li>Beberapa pertandingan sempat diwarnai kerusuhan, baik di dalam maupun luar stadion.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>3. Persebaya vs PSS Sleman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Status<\/strong>: Rivalitas Suporter Modern<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Latar Belakang<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Bonek dan Slemania (suporter PSS) pernah terlibat konflik keras saat Liga 2 2017.<\/li>\n\n\n\n<li>Isu boikot, saling ejek, hingga kekerasan antar suporter memperburuk hubungan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Rivalitas<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Meski bukan derby geografis, hubungan dua suporter memanaskan laga antar kedua tim.<\/li>\n\n\n\n<li>Ada momen boikot dan saling sindir lewat media sosial dan koreografi tribun.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p><strong>4. Persebaya vs Persib Bandung<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Status<\/strong>: Rivalitas Antarklub Besar<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Latar Belakang<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kedua klub memiliki basis suporter besar dan fanatik (Bonek vs Bobotoh).<\/li>\n\n\n\n<li>Sering menjadi &#8220;Big Match&#8221; yang mempertemukan dua kekuatan tradisional Liga Indonesia.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Rivalitas<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Rivalitas lebih ke arah prestise dan dominasi di liga.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak seintens Arema atau Persija, tetapi tetap menyedot perhatian besar publik.<\/li>\n<\/ul>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Bajol Ijo&#8221; dari Kota Pahlawan \ud83d\uddd3\ufe0f Tahun Berdiri dan Sejarah Awal Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya) resmi berdiri pada 18 Juni 1927, dengan nama awal Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Klub ini didirikan oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional dan pribumi sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi klub-klub Belanda.Pada 1943, SIVB berubah nama menjadi Persebaya dan menjadi anggota [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":60,"featured_media":29067,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_wds_title":"","_wds_metadesc":"","_wds_focus-keywords":"","_wds_meta-robots-adv":"","_wds_meta-robots-noindex":false,"_wds_meta-robots-nofollow":false,"_wds_meta-robots-index":false,"_wds_meta-robots-follow":false,"_wds_autolinks-exclude":false,"_wds_canonical":"","_wds_opengraph":[],"_wds_twitter":[],"wds_primary_category":0,"footnotes":""},"categories":[101],"tags":[],"class_list":["post-29066","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29066","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/60"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29066"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29066\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29069,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29066\/revisions\/29069"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29067"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29066"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29066"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29066"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}