{"id":23925,"date":"2024-06-12T01:51:27","date_gmt":"2024-06-11T18:51:27","guid":{"rendered":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/?p=23925"},"modified":"2024-06-12T01:53:07","modified_gmt":"2024-06-11T18:53:07","slug":"apa-yang-dimaksud-dengan-protocol-spi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/apa-yang-dimaksud-dengan-protocol-spi\/","title":{"rendered":"Apa yang dimaksud dengan Protocol SPI ?"},"content":{"rendered":"\n<h1 class=\"wp-block-heading\">Protokol SPI<\/h1>\n\n\n\n<p>SPI adalah singkatan dari&nbsp;<strong>Serial Peripheral Interface<\/strong>&nbsp;. Ini adalah protokol komunikasi serial yang digunakan untuk menghubungkan perangkat berkecepatan rendah. Ini dikembangkan oleh&nbsp;<strong>Motorola<\/strong>&nbsp;pada&nbsp;<strong>pertengahan 1980<\/strong>&nbsp;untuk komunikasi antar-chip. Biasanya digunakan untuk komunikasi dengan memori flash, sensor, jam waktu nyata (RTC), konverter analog-ke-digital, dan banyak lagi. Ini adalah komunikasi serial sinkron dupleks penuh, yang berarti bahwa data dapat dikirim secara bersamaan dari kedua arah.<\/p>\n\n\n\n<p>Keuntungan utama SPI adalah mentransfer data tanpa gangguan apa pun. Banyak bit yang dapat dikirim atau diterima sekaligus dalam protokol ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam protokol ini, perangkat dikomunikasikan dalam hubungan master-slave. Perangkat master mengontrol perangkat budak, dan perangkat budak mengambil instruksi dari perangkat master. Konfigurasi paling sederhana dari Serial Peripheral Interface (SPI) adalah kombinasi dari satu slave dan satu master. Namun, satu perangkat master dapat mengontrol beberapa perangkat budak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Antarmuka SPI<\/h2>\n\n\n\n<p>Protokol SPI menggunakan empat kabel untuk komunikasi. Ada yang ditunjukkan pada gambar.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-36.png?lossy=1&strip=1&webp=1\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"462\" height=\"348\" src=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-36.png?lossy=1&strip=1&webp=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-23928\" srcset=\"https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-36.png?lossy=1&strip=1&webp=1 462w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-36-300x226.png?lossy=1&strip=1&webp=1 300w, https:\/\/b581640.smushcdn.com\/581640\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/image-36-255x192.png?lossy=1&strip=1&webp=1 255w\" sizes=\"(max-width: 462px) 100vw, 462px\" \/><\/a><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>MOSI:<\/strong>\u00a0MOSI adalah singkatan dari Master Output Slave Input. Digunakan untuk mengirim data dari master ke slave.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>MISO:<\/strong>\u00a0MISO adalah singkatan dari Master Input Slave Output. Digunakan untuk mengirim data dari slave ke master.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>SCK atau SCLK (Serial Clock):<\/strong>\u00a0Digunakan untuk sinyal jam.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>SS\/CS (Slave Select \/ Chip Select):<\/strong>\u00a0Digunakan oleh master untuk mengirim data dengan memilih slave.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Catatan: Jika ada satu budak dalam komunikasi, yang diperlukan hanya tiga kabel. SS (pilihan budak) tidak diperlukan di dalamnya.<\/h4>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kelebihan SPI<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Keuntungan utama SPI adalah mentransfer data tanpa gangguan apa pun.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini adalah perangkat keras sederhana.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini menyediakan komunikasi dupleks penuh.<\/li>\n\n\n\n<li>Tidak diperlukan alamat unik dari budak dalam protokol ini.<\/li>\n\n\n\n<li>Protokol ini tidak memerlukan osilasi yang tepat pada perangkat slave karena menggunakan jam master.<\/li>\n\n\n\n<li>Dalam hal ini, implementasi perangkat lunak sangat sederhana.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini memberikan kecepatan transfer yang tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Sinyal bersifat searah.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini memiliki jalur MISO dan MOSI yang terpisah, sehingga data dapat dikirim dan diterima secara bersamaan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kekurangan SPI<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Biasanya hanya mendukung satu master.<\/li>\n\n\n\n<li>Itu tidak memeriksa kesalahan seperti UART.<\/li>\n\n\n\n<li>Ia menggunakan lebih banyak pin daripada protokol lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ini hanya dapat digunakan dari jarak dekat.<\/li>\n\n\n\n<li>Itu tidak memberikan pengakuan apa pun bahwa data tersebut diterima atau tidak.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penerapan SPI<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Memori: Kartu SD, MMC, EEPROM, dan Flash.<\/li>\n\n\n\n<li>Sensor: Suhu dan Tekanan.<\/li>\n\n\n\n<li>Perangkat Kontrol: ADC, DAC, POTS digital, dan Codec Audio.<\/li>\n\n\n\n<li>Lainnya: Pemasangan Lensa Kamera, Layar Sentuh, LCD, RTC, pengontrol video game, dll.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>\/\/AGR<\/p>\n\n\n\n<p>Referensi : <a href=\"https:\/\/www.javatpoint.com\/spi-protocol\">[1]<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SPI adalah singkatan dari\u00a0Serial Peripheral Interface\u00a0. Ini adalah protokol komunikasi serial yang digunakan untuk menghubungkan perangkat berkecepatan rendah.<\/p>","protected":false},"author":25,"featured_media":23928,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"wds_primary_category":271,"footnotes":""},"categories":[271,302,51,100],"tags":[553],"class_list":["post-23925","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-jaringan-komputer","category-prodi-d3tt","category-teknologi","tag-apa-yang-dimaksud-dengan-protocol-spi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23925","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23925"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23925\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23930,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23925\/revisions\/23930"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23928"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23925"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23925"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dte.telkomuniversity.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23925"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}